Keluar Sebentar Cari Suasana Baru

Posted on Posted in Travel Note

Liburan adalah cara terbaik untuk menghilangkan jenuh dan penat di fikiran, apalagi jika bertemu dengan sesuatu yang berbau alam kehijauan di tambah segarnya air mata gunung, tentunya membuat kita melupakan sejenak kegiatan rutinintas kita

Suara kicau burung yang bersaut sautan terdengar jelas di telingaku, beberapa kali suara keluruk ayam terus terdengar menandakan waktu sudah pagi, pagi itu kami di sabut dengan suasana pedesaan di Desa Baseh, seperti nuasa Desa pada umumnya mereka sangat hangat menyambut kami yang pada dasarnya adalah orang asing, kami balas senyuman mereka yang tersenyum kepada kami, sesekali kami berkata

“Punten mbah”
“Wilujeng enjing bu”
“Monggo pak”

dan sapaan-sapaan khas pedesaan, Desa Baseh merupakan suatu desa yang berada di  Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Letaknya yang berada di lereng Gunung Slamet, yang menyebabkan udara di desa ini sejuk dan bersih. Meski agak sedikit jauh dari Gunung Slamet tapi di Desa Baseh juga memiliki pemandangan Gunung Slamet yang tak kalah indah, apalagi jika pagi hari yang cerah kita bisa memanjakan mata dengan pemandangan Bukit dan Gunung Slamet.

Udara yang segar dan suasana yang sejuk membuat kami memutuskan untuk mendaki, entah kemana sebenarnya tujuan kami, yang jelas pada saat itu adalah kami pergi untuk menikmati suasana yang jarang sekali di temui di kota purwokerto.

dari kiri ke kanan (Sugeng, Trio, Andi, Afif, dan Mas Ranto)

Kami ber enam berangkat dengan membawa perbekalan sebutuhnya ataupun secukupya, 1 tas biasa berisi makanan  ringan dan sisanya kami hanya bermodalkan pekaian satu-satunya dan juga sandal capit masing masing, ah mau ketawa rasanya jika mengingat kejadian itu.

Mungkin beberapa pembaca bertanya siapa saja mereka ? Mereka adalah Mas Sugeng, Mas Trio Mas Andi, Mas Andi dan Mas Ranto, dan juga aku sebagai orang yang tereakhir.

Perjalan kami di mulai pukul 6 pagi, berjalan menyusuri jalan setapak melewati perkebunan warga dan area hutan pembuka, beberapa percakapan kami seputar suasan pagi itu dan juga sesekali bercanda ringan dan saling mentertawakan hal-hal lucu dan konyol. Selama perjalan ku tak bisa diam saja melihat dan melewatkan momen-momen begitu saja, ku potret beberapa foto bunga di tepi jalan itu, nampak indah dan segar.

hello flower

 

Perjalanan di mulai
Keceriaan Selama Perjalanan

Perjalanan di lanjutkan dengan menyusuri kebun sekitar, sesekali kita berbincang ringan sambil menikmati pemandangan hijaunya alam, segar nya udara pagi itu, rasa lelah yang terbayar sudah dengan pemandangan dan suasana yang lebih membuat kita bersyukur, kita masih bisa menikmati indahnya CiptaanNya. Setelah cukup lama berjalan menyusuri jalan setapak, akhirnya kita sampai di perkebunan ke dua, di tempat yang satu ini kita bisa melihat pemandangan sawah dan kebun  dan pohon besiar yang di sebelah sawah itu.

Bermain di Galengan Sawah Nufus – Sebelum Pulang

Tak mau lewat begitu saja akhirnya ku meminta kepada temanku untuk merekam sekaligus mengabadikan momen saat itu, coba menyusuri sawah melewati galengan, saat itu aku sangat berhati-hati ketika melewati galengan sawah, jadi teringat waktu masih anak-anak, aku sering sekali bermain disawah, sehabis pulang SD biasanya ganti baju dilanjut makan trus langsung menuju ke sawah, karena pada masa itu belum terjamah  gadget, permainan kala itu masih seputar barmain layangan, bermain kejar-kejaran, petak umpet di balik semak-semak pohon kacang dan berlari riang di galengan bersama teman-teman, bahkan kami sempat bermain bola di sawah yang baru saja di panen, ah sungguh kenapa aku jadi nostalgia begini. *Usap air mata* Waktu memang cepat berlalu.

Kembali ke cerita sekarang.

Segar rasanya jika melihat pemandangan hijau seperti ini, rasanya ingin lebih berlama-lama di sini, di Perkebunan kedua ini ada sebuah gubug tempat petani beristirahat dan menikmati waktu senggangnya, gubug tersebut berada di sebalah sungai yang tepat sekali sebagai sumber air dan juga  sebagai sumber pengairan sawah di sekitar.

Suasana Gubug Petani

Kami beristirahat sejenak  sambil menghilangkan lelah, mengeluarkan cemilan dan juga memasak kopi hitam khas buatan warga Desa Baseh. Karena dekat degan sumber air, mempermudah kami untuk membuat air panas untuk kopi, langsung saja pagi itu kita membuat api dan membuat kopi, tempat pengapian yang berada di dalam gubug memudahkan kita untuk memasak, terta tersedianya gelas milik petani yang alhamdulillah bisa kita gunakan.

Estafet mengambil Air

Momen di atas adalah ketika aku dan mas sugeng sedang estafet mengambil air untuk di masak.

Api Asmara sepanas Api Cemburu 🙂
Mas Ranto sedeng memasak air

Dari mereka berlima, aku termasuk yang paling senang dengan  kopi maupun saat membuat kopi, saat menuangkan air ke dalam gelas yang aku rasakan adalah perpaduan antara seni, rasa dan keunikan kopi dalam satu gelas, menyiapkan minuman kopi, menaruh kopi, menuangkan air panas serta mengaduk dengan gerakan tangan yang tertata, saya merasa “seksi” dalam tanda kutip hehe . Saat meminum pun demikian saya membayangkan yang sama, tak tergesa gesa dalam menikmati kopi panas itu, sebelum di kecup terlebih dahulu aku hirup aroma kopi nya terlibih dahulu, biarkan itu mengalir dalam saluran pernafasan dan merangsang sampai ke otak, nikmati setiap hembusan aromanya, baru kemudaian di sruput.

yang kalian liat, gue bikin kopi biasa. Yang gue rasakan, gue bagai Barista 😀

Sepertinya aku terlalu banyak menulis tentang kopi, baik kembali lagi ke cerita.

Mas afif saat sedeng menikmati gemricik air sungai kala itu.

Sambil Menikmati sausana pada pagi itu, kami berdiskusi ringan menyantap kopi, kripik singkong, dan kacang asin.

Walaupun pahit engkau penawar sepi
Meskipun hitam engkau putihkan imaji
Rela menemani pagi ini
Aroma membius
Secangkir ini seteguk ini asa menjamu
kopi hitam
berteman dengan cawan
pahit masam
lelaki idaman

#MaksaPuitis

Rokok dan Kopi

Diskusi kita kala itu seputar bercerita tentang sejarah perkebunan tempo doeloe dan sedikit ngobrol politik, juga pengalaman mbah wawan ketika masih muda, yang saat itu bisa ke gunung slamet tanpa petunjuk jalan, tidak seperti sekarang gunung slamet lebih mudah untuk didaki karena sudah banyak petunjuk jalan, beliau juga bercerita tentang macam-macam burung yang sering beliau temui, kita yang padadasarnya tak paham betul dengan kondisi hutan waktu dulu di buat serius mendengar cerita beliau, entahlah kita paham atau tidak setidaknya kita menghargai orang tua yang sedang bercerita.

Expresi muka yang entahlah 🙂
Ngopi

Saat itu kita ditemani 3 orang petani sekitar yang juga sedang beristirahat dan menikmati momen bersama. Setalah cukup dengan ngopi-ngopi di tepi sungai dan berdiksusi ringan, perut juga sudah mulai terisi, kami pun melanjutakan perjalanan, masuk lebih dalam ke dalam hutan itu.

Perjalanan berlanjut

Semangat masih menggebu-gebu kitapun melanjutkan menyusuri jalan setapak, trek yang lumayan licin karena sedikit basah, juga sandal capit yang aku gunakan sedikit menyulitkan untuk berjalan, yah tapi tetap ku nikmati. Enjoyyy

Emang benar kita ini sedang mencari hiburan dan suasana baru, apapun yang di temui pasti penginnya bisa berfoto, kali ini aku berfoto dengan pohon yang tumbang kerena terkena badai, berjalan meniti batang pohon.

Apa yang kau lakukan bang ? Kembali ke barisanmu Kawan ! 🙂 (Trio Andika)

Suasana kala itu sedang sedikit mendung dan berembun tipis, membuat kita sedikit cemas bila hujan, jika nanti benar benar hijan itu artinya kita siap berbasah ria, syukurlah yang terjadi hanya berembun tipis dan gerimis, kemudian hilang dan berkabut lagi, begitu suasana jika berada di dekat hutang tropis 🙂

Jalan setapak di kaki pegunungan Gunung Slamet

Pemandang di bawah adalah jalan menuju Curug Gomblang

dari atas sini kita bisa melihat pemandangan hamparan hijau perkebunan/hutan ah segar nian, cuaca dan udara yang segar, pagi itu tepatnya pukul 11.15 , kita berhenti sejenak dan menikmati pemandangan di tepi jurang, kenapa tepi jurang, karena kita sudah berada di tanah yang lumayan curam, namun cukup aman.

 

Bersama rekan pendakian ah entahlah nikmati saja. Dua di depan mas Andi dan mas Trio, dua di belakang mas Ranto dan mas Sugeng

Cuaca yang mendung namum menyegarkan, nikmati dan rasakan setiapa tarik nafasmu, rasakan segarnya udara masuk ke dalam paru paru dan lepaskan lewat mulutmu. Terimkasih semesta Terimaksih untuk sang Pencipta dengan segala ciptaanNya, sekali lagi terimkasih 🙂

 

 

Jika sudah melihat seperti ini, timbul dalam benakku “kapan ya bisa menyenderi sendiri di bawah kaki gunung di dalam hutan, membawa perlengkapan survival dan menikmati suasana gunung sendiri dan sunyi, sekedar mengasingkan diri sejenak dari gemerlapnya kehidupan dunia dan kemudian kembali lagi ke kehidupan, dengan jati diri yang baru dan hati yang kuat”

Mas Afif dan Curug Gomblang
Mas Trio
Mas andi
Tim Expedisi Lost in Desa Baseh 🙂

Terimakasih sudah mengajaku kesini 🙂

 

 

Setelah puas berjalan menyusuri hutan dan menikmati segala jenis pemandangan, suasana, nuansa dan juga kesegaran udara, akhirnya kami turun. Namanya juga Nufus harus membuat kesan lebih jika mengunjungi tempat tempat tertentu, mulai dari foto telanjang dada di puncak gunung slamet dan gunung sindoro, di tengah pejalan turun kita bertemu degan sungai yang airnya seakan melambai-lambai memanggilku, arinya cukup jernih benar benar air dari mata air pegunungan, dan dari mereka hanya aku yang menuruti panggilan air itu.

 

 

Pepatah jawa yang mengatakan “urip iku mung mampir ngombe”, ibarat seorang pengembara  yang sedang menempuh perjalanan meraih tujuan hidup yang sejati, kita ini hanya mampir saja untuk sekedar beristirahat atau mampir minum lalu pergi. Dunia ini degan segala yang tergelar di dalamnya bukanlah milik kita, termasuk diri kita sendiri. Namun, meskipun hidup sangatlah singkat, penting sekali bagi kita untuk dapat memaksimalkan hidup ini menjadi instan yang bertumbuh dewasa kejiwaannya.

Yeah, Make the most of your life! Salah satunya melalui belajar dari pengembaraan dan pengalaman-pengalaman yang didapat selama melakukan perjalanan tersebut.

Aku pun terbiasa menelisik dan merefleksikan kembali perjalanan yang ku tempuh di berbagai daerah dan kota, walau sampai saat ini aku ingin sekali melakukah perjalanan lintas Negara, itu masih dalam daftar impian ku yang tertulis di langit langit kamar.  Meskipun perjalanan-perjalanan itu dapat dikatakan singkat, akan tetapi maknanya sangat bangyak. Terkadang, peristiwa tak terduga pun turut hadir di tengahnya dan kemudian menjadi pemanis kenangan yang terbingkai oleh serangkaian memori. Kalaupun ada hal yang membuat sulit, pasti kemudian tersingkap hikmah untuk kebaikanku.

Setiap hal positif yang kulakukan selama perjalanan hidupku pun pasti  akan berbuah sesuatu yang positif pula, bahkan membukakan pintu untuk memperkaya pengalaman baru. Tak Jarang, aku mendapati pesan semesta yang terbawa melalui sastra yang tidak tertulis, yaitu setiap kepingan makna yang tersirat dari fenomena alam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sastra tersebut sesungguhnya adalah pelajaran sederhana namun berharga untuk prosese pendewasaan pola pikir dan kejiwaan.

Aku pun yakin bahwa semakin kita banyak melangkah untuk belajar, berjuang dan berproses, semakin terbuka mata hati dan jiwa kita untuk dapat memaknai sastra yang tergelar di dunia namun tidak tersurat.

semua tergantung bagaimana sanubari ini dapat merasa-rasai hadirnya secercah cahaya yang terbit di dalam kalbu, kapan pun  dan dimana pun kaki melangkah.

Terimakasih

Nufus M. Zaki – Sebelum Pulang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 thoughts on “Keluar Sebentar Cari Suasana Baru

  1. Paragraf penutupnya apik mas.

    Orang-orang dulu bilang kalau pengalaman adalah guru yang terbaik dan itu saya aminkan.

    Benar yang mas bilang, dibalik kesulitan pasti ada hikmah. saat menjalani hal sulit sering kali kita berkata “kok gini amat sih”, tapi setelah berhasil melewatinya tak jarang kita berkata “Oh, ini toh yang mau diajarkan kepada saya”.

    Terima kasih mas sudah berbagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *