Expedisi Gunung Sindoro : 3 Pendaki Coeg

Posted on Posted in Travel Note

Ehem yoo, Whatsapp the people of the world, broadcasting live from this place and you are watching me!!!! ooowww
No no no itu bukan intro gue, ya itu intronya bang Tim2one – ChandraLiow. Okey pada kesempatan kali ini gue mau menulis guna mengabadikan momen dan juga cerita gue untuk nanti di cerikan ke nufus nufus junior *Anjay 😀

Setelah sukses mendaki Gunung Slamet dan Gunung merbabu dan Gunung Sumbing  Fix gue kecanduan mendaki 🙂 akhirnya setalah selesai mendaki gunung slamet pada tanggal 28-30 Juli 2017 kemarin artinya sudah 8 bulan berlalu, sebenarnya pendakian kali ini sudah direncanakan dari jauh jauh hari, dimulai bulan desember awal sampe februari yang artinya kita belum fix kapan jelasnya, karena pada saat itu adalah melihat kondisi cuaca yang sedang sering badai dan juga cuaca yang tidak bersahabat untuk pendakian, dan ini satu hal lagi, kita rencana mau mendaki ber 2 doang, gila ajah kita ke Sindoro mau berdua doang ???

Well akhirnya kita putuskan untuk minimal 3 orang lah, dan saat itu kita belum dapat partner pendakian.

“Sur, mendaki 2 orang doang berani gak”
Celetuk gue yang saat itu lagi ngendong dirumah dia sambil ngabisin biskuit roti dan kopi hitam
“Dua orang doang ? Serius nih ? Ya oke saya sih ayo”
Ucapnya singkat sambil lanjut minum kopi dan makan keripik pisang

Nah karena pada waktu itu kita lagi pegang ponsel pintar, yang pintarnya luar biasa sampe memisahkan yang dekat, akhirnya kita coba hubungi teman teman yang bisa mendaki pada tanggal 02 Maret 2018, di mulai dari teman gue pas di kampus,di mulai dari si A si B si C dan F sampai yang lainnya, fix nggak ada yang bisa, sekalipun ada jawabannya belum pasti. ini nih yang sering bikin harapan paslu coret saja ukthi coret. *Apasih gak nyambung* 🙂
Tak lupa temen waktu sekolah gue yang di SMK SUZURUAN Ajibarang pun (Read – SMK 1 Ajibarang) gue hubungin dan hasilnya yah, masih belum.

Dan Sampai pada akhirnya fix kita belum dapat partner, sampailah pada 2 minggu terakhir di bulan februari kita dapat partner yang ketiga, Ahmad Nur Kholis yaps lengkap sudah, akhirnya kita jadilah kita 3 pendaki coeg. Set dah ini pembukaan kebanyakan. *gak penting njeer*

***

Jumat (02/03/2018) Purwokerto sore itu masih dalam cuaca yang cerah, matahari tak malu memanacarkan sinarnya, suhu udara waktu itu 32’c berkali kali aku cek jam dinding, oh masih 13.12 tenang masih ada waktu, segara ku selesaikan beberapa tugas yang harusnya bisa diselesaikan hari senin, akan tetapi karena ada agenda mendaki ingin ku selesaikan semua  pekerjaan hari itu, kalo bisa sekarang jangan di tunda.*wah habis makan apa gue semalem, bisa bener gini ngomongnya*

Setelah beberapa saat setelah sholat dhuhur, waktu itu sudah memasuki pukul 15.00 hati sudah mulai gelisah, akhirnya selesai juga pekerjaan sore itu, karena meeting point pendakian kita adalah jam 17.00 di peak adventure, akhirnya sore itu juga pukul 16.12 setelah sholat ashar langsung aku bergegas pergi meninggalkan meja kerja, tak lupa absen fingerprint pulang cabut deh aku sore itu.

Akhirnya senyum itu pun muncul setelah melihat rekan sependakian sudah ada di peak adventure dan saat itu juga kita langsung pesan Go car menuju ke terminal bulupitu purwokerto, tak menunggu lama ternya bus yang kita cari untuk menuju kledung sudah siap siaga, sore itu akhirnya kita berangkat ke kledung pukul 19.30 wib sampai di kledung pukul 23.30 wib kedua temanku menyempatkan untuk makan malam, sedang aku masih memilih untuk langsung tidur di basecamp. Sampai pada pagi harinya barulah kita bersiap siap untuk pendakian pagi ini.

Ini adalah suasan basecamp sekaligus gedung pertemuan warga desa kledung

Udara dingin waktu itu membangungku, dinginnya suasana sampai membuat ku menarik sleeping bag lagi, suara azan subuh terdengar sangat jelas, untuk seorang muslim tentu saja itu adalah suara panggilan untuk menghadapNya, ku bangunkan teman ku arif mashuri dan ahmad nur kholis. Setelah sholat subuh barulah kita sedikit persiapan pendakian dan packing ulang barang bawaan, tak lupa sarapan pagi, kenapa sarapan pagi ? ya karena itu penting, apalagi nanti di atas kita tidak lagi bertemu dengan nasi. hehehe Karena yang kita bawa bahan makanan mie instan dan beberapa snack dan roti tawar plus susu, dan juga minuman sachet lainnya.

Persiapan Tiga Pendaki Coeg sudah siap

Perut sudah terisi dan badan sudah hangat, sedikit olah raga untuk pemanasan, akhirnya kita bersiap untuk mendaki. Bisa dilihat ? Kedua rekan ku ini memakai celana pendek dan sepatu gunung, sedangkan aku ? aku pakai sepatu sepatu boot . wagwagwag 😀 . Sebelum berangkat alangkah baiknya berdoa untuk keselamat dan kelancaran, karena bukan puncak tujuan akhir kita, ada yang labih penting daripada puncak, yaitu pulang dengan selamat sampai dirumah masing masing 🙂 *subhanalloh nufus kamu sungguh bijak sekali nak*

Menurut petugas penjaga basecamp dari basecamp ke pos 1 perjalan jalan kaki sekitar 1,5 jam, akan tetapi akan berbeda jika di akses menggunakan jasa ojek gunung, bisa 15 menit saja, untuk jasa ojek sendiri dari basecamp ke pos 1 tarifnya 25.000/orang. Karena saat itu kita masih segar dan semangat akhirnya kita putuskan untuk jalan kaki ke pos 1 sembari menikmati perjalanan dan keramah tamahan penduduk lokal yang biasa beraktivitas di kebun bertani macam macam sayuran.

Pemandangan Gunung Sindoro
Pemandangan Gunung Sindoro saat mendaki kedua temanku ini sangat antusias (kanan) Adit (Kiri) Mashuri)
Saat menoleh ke belakang ada pemandangan gunung Sumbing yang malu malu berselimut kabut 🙂

Oh sebelumnya perkenal dulu gunung sindoro atau yang sering disebut gunung sundoro, memiliki ketinggian 3.153 mdpl di atas permukaan laut. Gunung ini terletak di sekitar kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah.

Gunung Sindoro merupakan gunung berapi yang masih aktif, di hadapan gunung sindoro yang gagah, ada juga Gunung Sumbing, yang mana sebelumnya tiga pendaki coeg pertama kali mendaki ke Gunung Sumbing . Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing kerap dianggap sebagai “Gunung Kembar” dalam tanda kutip loh, 😀 wagwagwag ingat pikiran jangan kemana-mana. Oke itulah sekilas tentang Gunung Sindoro

Basecamp – Pos 1

Setelah berjalan santai dan menikmati perjalan sambil sekali dua kali tiga kali bercengekrama dengan warga sekitar, akhirnya kita sampai di gerbang pendakian selamat mendaki, itu adalah gerbang yang mungkin selama ini aku lihat hanya di instagram anak anak gunung yang hits dan sekarang giliran aku sendiri yang melihat dengan mata kepala dan juga merasakan oh ini toh heemm ya ya ya *akhirnya sampai disini juga gue*

Expresi Seneng 3 Pendaki Coeg

Jika di lihat sekilas expresi mereka seperti anak kecil yang polos,wagwagwag 🙂 masih penuh energi dan sumringah. Setelah puas berfoto dengan Gerbang Pendakian akhirnya kita melanjutkan perjalan yang masih amat jauh, gerbang ini hanya awal bukan akhir dari perjalanan. hihihi

Follow me Junior

Perjalan dari gerbang menuju pos 1 terbilang masih mudah dilalui tidak terlalu menanjak, jalurnya pun masih belum terlalu terjal, agak sedikit basah karena sehari sebelumnya hujan, jadi sedikit licin, ya jadi nikmati saja. 🙂

Pos 1 – Pos 2

Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 treknya tidak terlalu sulit, disini kita sudah memasuki kawasan hutan yang cukup teduh, segarnya udara dan juga hijaunya pemanadangan, rindangnya pohon *oh dalam hati ini yang selam ini gue cari :)*

Jalur ini juga sudah ada petujuk arah, sehingga memudahkan pendaki pemula untuk tetap mengikuti jalur, yang tak terduga adalah teman ku yang satu ini akhmad Nur Kholis, dari kita bertiga cuma dia yang baru pertama kali mendaki, kalau ngomongin pengalaman jelas kita berdua (read-Mashuri dan Gue) udah berpengalaman. Justru anak yang beru pertama mendaki ini lah yang lebih sering memimpin perjalanan, dalam arti dia berada di paling depan, eh bentar bentar mungkin karena beban carrier yang di bawa lebih ringan kali yah, ah syudahlah lanjutkan.

Cuaca selama perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 kadang diselimuti kabut lalu hilang, beberapa saat berkabut lagi dan ketika terkena sinar matahari kabut itu menghilang lagi, membuat suasan makin syahdu dan harap harap cemas kita dengan cuaca. *hehehe persiapan mau pakai matel nggak yaa?*

Bertemu dengan Bu nani sang pendaki yang berjiwa muda.

Masih dalam perjalanan pendakian menuju pos 2, ditengah perjalanan akhirnya bertemu dengan rombongan dari jakarta, bu nani namanya, beliau mendaki bersama 17 orang lainnya, terjadilah percakapan dengan beliau, dan kita terkagum, ternyata beliau ini walau usianya sudah terbilang tidak muda lagi akan tetapi semangatnya masih muda, bu nani sudah  5 kali mendaki Gunung, diantaranya gunung Semeru, Gunung Argopuro, Gunung Merbabu dan Gunung Rinjani. Sedangkan kita ?  Gunung yang dekat dekat saja dulu, Gunung di daerah Jawa Tengah juga belum semuanya. 🙂 keep calm and planing packing hiking

Melanjutkan Perjalanan ke pos 2

Setelah selesai berdiskusi sedikit tentang pengalaman pendakian di beberapa gunung akhirnya kita sempatkan untuk foto bersama, dan bertukar nomor telephone dengan bu Nani, siapa tau akan bertemu lagi di pendakian berikutnya atau mungkin akan mendaki barsama. Siapa yang tau, aku juga tak tau . 🙂

Maafkan ke alayankuh 🙂

Lanjutkan perjalanan menuju pos 2, selama perjalanan dari pos 1 ke pos 2 cuaca sudah mulai cerah dan tidak berkabut lagi, perjalan dari pos 1 ke pos 2 sekitar 1 jam 45 menit, kita sampai di pos 2 pukul 09.53 alhamdulillah

Maafkan Ke alay an nya jugah

Sampainya di pos 2, kita gunakan untuk istirahat dan menarik nafas panjang-panjang sembari mempersiapkan energi untuk perjalalan selanjutnya.

Pos 2 – Pos 3

Kita melanjutkan perjalanan kembali dari pos 2 ke pos 3, setelah 15 menit istirahat di pos 2. Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 terbilang cukup berasa berat karena treknya sudah kombinasi tanah dan batu-batuan, untuk tanjakannya pun sudah mulai terjal menurutku. Nah saat di tengah pendakian yang melelahkan kita bertemu dengan Pendaki akhwat  yang mendaki dengan baju gamis, dan gamisnya warnanya merah 🙂 *yang baju merah jangan sampe lolos, gitu dalam hati gue, wagwagwag*

Langsung saja naluri lelaki aku keluar, spik spik syar’i ah
“Eh mbak mendaki nya pagai gamis?”
Cletuk aku memulai percakapan
“Iya nih mas, hehe”
Jawabnya singkat padat dan jelas
“Ooo dari mana mba ? berapa orang?”
Basa basi aku waktu itu, oh tidaks wagwagwag 😀
“Ini kita bertiga 3 saja mas, kalo saya dari Semarang mas”
Jawabnya.

Karena sudah mulai nyambung percakapan ini akhirnya inilah jurus gue

“Mba, saya jarang liat pendaki akhwat pakai gamis mendaki gunung, boleh nggak foto bareng ?”
Ucap aku penuh harap 🙂
“Ya boleh mas saja mas, gimana fotonya dimana?”
akhirnya cekrek cekrek dapatlah moment itu hihihi.

Oh ya setelah percakapan lebih lanjut, mbak ini adalah tutiul amroini atau bisa di cek instagramnya @kembang_sepasang21 kuliah di UIN Walisongo semester 4, eh ko jadi cerita ini. 😀 skip skip

Kembang_Sepasang21 Featuring Muzanuf

Pendaki Coeg Featuring Pendaki Akhwat 🙂

Waktu semakin siang kita lanjutkan perjalanan, cuaca sudah mulai berkabut lagi saat itu sudah memasuki pukul 10.56 siang, suhu tubuh waktu itu kadang panas gerah, tapi juga kadang dingin jika tidak bergerak dan terlalu lama istirahat, lanjutlah kita mendaki lagi dan meninggalkan akhwat berserta rombongannya yang sedang istirahat 🙂

Setelah beberapa kali melewati tanjakan demi tanjakan rintangan demi rintangan akhirnya kita sampai di Area Batu Longko, nah kalau sudah sampai Batu Longko berati tandanya sudah dekat dengan pos 3.

Sejenak berfoto dengan papan tanda memasuki area batu longko, sebanarnya aku masih kurang paham dengan batu longko, apakah tidak ada batu lagi setelah itu atau gimana maksudnya, kerena saat kita susuri lagi tanjakan demi tanjakan kia masih saja bertemu denga trek batu batu 🙂 heemm apa ini batu longko ? *Mikir Keras*

Suasana Hutan kala itu yang sebagian masih terkena kabut
inilah foto sok ganteng geu saat itu, 🙂

Sembari beristirahat dan menikmati pemandangan alam ciptaanNya sesekali berucap syukur atas apa yang telah ia berikan kepada hambanya. 🙂 

Melanjutkan perjalan ke pos 3 kita bertemu lagi dengan trek bebatuan yang cukup menguras energi sambil saling menunggu rekan satu sama lain yang tertinggal. Trek dengan jalur terbuka dan beratnya medan membuat kita  beberapa kali beristirahat, tetapi hanya mengambil nafas dan minum. Perjalan dari pos 2 ke pos 3 kurang lebih kita tempuh dengan waktu  1 jam.

Beberapa kali kita bertanya “ini pos 3 mana, kok nggak sampai sampai ? :)”  Ternyata jarak dari pos 2 ke pos 3 memang cukup jauh, terus menyusuri jalan dan sampailah pada akhirnya kita sampi di pos 3 pukul 13.12 dan langsung mencari tempat untuk mendirikan tenda dan segera masak air sekedar untuk minum kopi/susu energen ataupun masak mie instan 🙂 .hihihi

Ini yang aku bilang, makan mie instan 🙂

“Wahai istriku dimasa depan, maafkan akuh, aku makan mie instan 3 kali sehari :(“

Setelah kenyang dengan mengisi perut dengan makan mie ,kopi dan cemilan 🙂 kedua temanku ini langsung tidur, mungkin kerana cuaca pada waktu itu sangat cocok untuk tidur ditambah dengan kondisi tubuh yang sudah lelah.

Cuaca waktu itu masih saja diselimuti kabut dan sesekali hujan gerimis dan setelah itu berhenti dan kabut menghilang, akan tetapi tak menunggu lama kabut datang kembali, tak bisa tidur walau perut sudah kenyang akhirnya aku sempatkan jalan jalan di sekitar area pos 3 dan bercengkrama dengan sesama pendaki di area sekitar, kabanyaka yang aku tanyakan adalah

“Rombongan dari mana mas/mbak? Berapa orang ?”

Kebanyakan yang saya temui adalah pendaki pendaki dari luar kota, dari semarang, dari bekasi dari jakarta dan jogja, sempat pangling aku dengan logo yang ada di depan salah satu tenda, aku paham logo itu, ternya logo IAIN Purwokerto 🙂 wahahaha ternyata ada anak anak dari purwokerto juga, ngobrolah beberapa topik.

Suasan pos 3 saat itu berkabut
Tenda kita berdampingan dengan tenda pendaki dari bekasi, Tenda kita (kiri) Tenda Pendaki dari Bekasi (kanan)

Sore itu kita habiskan waktun untuk istirahat dan memepersiapkan energi untuk besok pagi summit attack .

Oh ya belum aku ceritakan, ternyata di pos 3 ada bapak penunggu tenda dan juga sekaligus security di pos 3, yang mengamankan tenda tenda dari gangguan babi hutan sekaligus yang menjaga tenda ketika para pendaki menuju puncak, beliau juga sembari mencari nafkah denganb berjualan mendoan di pos 3, beliau bernama pak Kuat, entahlah kenapa namanya pak kuat, menurut warga sekitar basecamp beliau disebut pak kuat karena dengan entengnya berjalan dari basecamp menuju pos 3 hanya di tempuh dalam waktu 2 jam saja.

beliau  menjual mendoan di pos 3 dengan haraga 2000/pcs, mendoannya juga enak dan lebar lebar 🙂 *wagwagwag apa apaain ini?*

Suasana dalam tenda ketika makan mendoan dan kopi 🙂

Malam itu kita istirahat dan menuggu esok pagi untuk summit attack

Summit Attack

Pagi yang dingin ditambah semilir angin malam waktu itu, angin gunung memang selalu dingin, suasana di luar tenda sudah mulai ramai dan sedikit ribut dari teman teman pendaki lain, siapa juga yang bisa tetap tertidur pulas saat itu, saat ku lihat jam ternya sudah jam 3 pagi, pantas saja di luar sudah mulai ramai, serangan fajar benar benar di mulai, hahaha.

Ku bangunkan rekan rekan ku, kutanyakan mau summit attack jam berapa ? kompak dua rekanku menjawab “nantilah fus, aga siang dikit, jam 4 / sehabis subuh”

pagi kala itu, dari kiri ke kanan Arif Mashuri, Iwan, Nufus dan Akhmad Nur Kholis. take by Adit

Pagi itu kita mulai mendaki sambil menikmati suasana pagi hari, sungguh udara pagi kali itu adalah udara paling segar menyehatkan, jauh dari campuran udara di perkotaan, sungguh segar, ku tarik nafas panjang panjang udara kali itu. oh segarnya udara gunung. Kita mulai mendaki jam 04.15 wib bersama rekan sebelah tenda mas adit dan mas iwan.

setelah melewati pos 3, kita sampailah di sunrise camp tempat paling favorite untuk ngeCamp dan juga batas terakhir pendirian tenda di Gunung Sindoro.

Batas Area Camp
entah sedang apa diriku, liat pohon rasanya ingat masa kecil 🙂

  Tak mengapa beristrihata teman, persiapkan tenaga dan mulai melangkah terus ke depan, jangan ragu jangan bimbing maju saja terus. Bulan pagi kala itu, menemani kita selama perjalanan menuju puncak.

Gunung Sumbing, dilihat dari gunung sindoro
Sumbing Mountain

Syahdunya pendakian kala itu, sungguh momen yang tak mau kulupakan, hangatnya tubuh dan juga dinginnya agin pagi itu yang menyelimuti seluruh tubuh tatkala kita terlalu lama berdiam diri dan istirahat tubuh menjadi dingin, akan tetapi dingin ini sedikit berbeda, dingin ini adalah dingin yang sekaligus menyegarkan. *hehe nggak mudeng ya, ya syudah* 🙂

Setelah perjalan cukup melelahkan akhirnya kita sampai di pos 4, saat itu pukul 05.40 kita sudahe berada di pos 4, ketinggian kala itu kurang lebih  2838 mdpl. Setelah melewati pos 4 selanjutnya kita memasuki kawasan hutan lamtoro, disini pemandangan lebih terbuka dan luas, sehingga bisa melihat gunung sumbing yang berdiri gagah di depan gunung sindoro, mungkin pamandangan ini juga terjadi pada mereka yang mendaki di gunung sumbing, sepanjang perjalan yang mereka lihat adalah indahnya pemandangan gunung sindoro. hihihi 🙂

Gunug sumbing dilihat dari atas pos 4
Masih pemandangan yang sama 🙂
Pemandangan Padang rumput titik putih itu adalah bulan
Pemanadangan sebalah kanan juga tak kalah indah

Sambil menikmati perjalanan dan menikmati suasana pagi kala itu, kita disujuhkan dengan kawan padang rumput yang lebar membentang, tak mau kehilangan momen ini ku abadikan foto dari arah kiri dan juga kanan.

Melanjutkan Penadakian

mashuri kala itu dengan celana yang basah karena ah entahlah wagwagwag 😀

Mas Ahmad Nur Kholis memimpin pendakian.

Oh ya belum aku ceritakan, jadi ketika summit attact kata hanya bawa 1 carrier dan semua barang bawaan yang tidak penting di tinggal dalam tenda, yang kita bawa waktu itu adalah jaz hujan, makanan, obat obatan, sumplemen bisa juga vitamin dan madu, tak lupa bawa Air Minum.  Terlihat jelas mereka sudah ada di depan sana, itu artinya aku tertinggal di belakang hahahaha, dalam foto mashuri tampak sedang duduk istirahat dan menunggu rekan sependakianny (Read-Gue)diatas langit, masih ada langit, dibawah bumi masih ada bumi, begitu pepatah yang pernah aku dengar, sesekali aku menengok ke belakang. Mereka juga sedang berjuang mendaki Gunung Sindoro, jadi jangan selalu besar kepala ya gens

Pos 4 – Puncak Sindoro

Setelah melewati beratnya medan, dengan penuh semangat dan tekad yang kuat, alhamdulillah selama 1 jam 45 menit kita mendaki dari pos 4 ke puncak, akhirnya kita sampai juga di puncak sindoro 3153 mdpl akhirnya kita sudah di puncak. Kita sampai di puncak saat itu pukul 07.31 wib

Puncak sindoro kala itu kadang berkabut juga berselimut gas sulfur, sangat tidak disarankan berlama lama di puncak, berbahaya dan bisa mengganggu pernafasan, disini peran masker sangat di perlukan, untuk mensiasati gas sulfur, masker bisa di basahi dulu degan air minum.

Waktu efektif saat di puncak adalah dari jam 7 sampai jam 12 siang.

Sampai sini aku sudah kebaisan kata kata, selanjutnya biarkan foto yang berbicara yaa… 🙂

Arif Mashuri Expedisis 3S

 Seperti kebiasaan aku waktu mendaki, aku pengin foto telanjang dada, seperti ini, eh setelah dilihat lihat aku gemuk juga yak .!! wagwagwag 🙂 dah lupakan 

“Tolong kelek di kondisikan mas” wagwagwag 😀
Bersama rekan seperjuangan, bisa dibilang teman sejak TK SD SMP SMK dan sampi sekarng
Nufus M. Zaki menikmati momen kala itu dibelakgnya ada kawah yang sedang aktif mengeluarkan gas sulfur

Oh ya dalam pendakiannya, aku bertemu dengan Om Roy, Om Roy ini salah satu teman pendakiannya Bu Nani, yang di atas sempat aku ceritakan yang 17 orang itu loh dari jakarta. hihih

Beliau melihat aku foto telanjang dada, kemudian datang dan menghampiri.
“Mas aku juga mau dong foto buka baju gitu, bareng ya mas”
Ucapnya
“Wah pengin juga Om, sinih om foto bareng, gaya nya gini ya Om” wagwagwagwag 😀




Kawah Gunung Sindorog

Naik ini papah waktu masih muda.

Entah apa yang terbesit dalam pikiranku, kutulis sebuah pesan untuk masa depan, sekali gus pesan untuk masa lalu jika waktu itu datang. *Ternyata gue bener bener Visioner* wagwagwagwag 😀
kalau ini, entahlah itu mashuri yang nulis, aku ikut saja wagwagwag. siapa tau calon jodoh baca blog ini … 🙂
Akhirnya kita bisa foto bertiga di gunung sindoro bersama teman SMK 1 Suzuran Ajibarang wagwagwgag

ada sedikit video porodi dari kita saat di puncak, boleh di liat hihihihi

Akhirnya kurang lebih 40 menit kita di puncak, selanjutnya tinggil perjalanan turun gunung, inilah arti dari sebuah pendakian, setinggi apapun kita mendaki pada akhirnya kita harus turun lagi ke titik nol. titik dimana kita mulai pendakian turun gunung untuk mendaki gunung gunung berikutnya, dan begitu kehidupan pendaki berlangsung, sungguh merepotkan *sekilas mirip qoutes sikamaru (Naruto)*

Pukul 08.15 Kita putuskan untuk turun gunung..

Aku syudah lelah mengetik, sungguh 🙂
Biarkan foto yang bercerita lagi 🙂

Galeri Turun Gunung

Check this out

 

 

 

 

 

 

 

Saat perjalan turun gunung, ternyata bertemu lagi dengan akhwat pendakai ku minta rekan ku arif mashuri untuk mengambil gambar, dan terjadi adalah dia memVideo, tapi tak apa ternyata ada fotonya juga. hihihi sebuah kenangan 🙂

Bersama Kembang_Sepasang21

momen waktu minta di foto tapi yang terjadi malah di video 🙂

Posted by Nufus M. Zaki on Tuesday, 6 March 2018

 

 

 

Bermain di padang rumput 🙂

 

 

 

 

 

 

 

Bertemu kembali dengan bu Nani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekian Cerita Expedisi Gunung Sindoro kali ini, terimakasih sudah membaca.

Salam 🙂

Nufus M. Zaki

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

23 thoughts on “Expedisi Gunung Sindoro : 3 Pendaki Coeg

  1. Asik dah bisa foto sama kakak bergamis ekwkw… Makasih kak nufus yg baik hati dan ganteng hehe telah mengambil hati kakak ku wkwkwkw

  2. Dari gunung tripple S baru gunung Slamet doang yang pernah ku daki.
    Niatnya tahun ini mau ke Sumbing dan Sindoro juga.
    Makasih banyak loh ceritany ane jadi punya gambaran kalo ke Sindoro nanti 🙂

    Btw, bang pake kamera apa ya batrenya kok awet banget bisa ambil dokumentasi dari mulai naik sampai turun gunung O.o

  3. Ayo mas khairul coba mendaki gunung tripel S biar coeg kaya kita 😀 ihhihihi

    Semoga terlaksana mas naik sindoro dan sumbing, iya sama sama mas berbagi pengalaman degan tulisan.

    Itu pake Kamera Hp Xiomi mas,wagwagwag 🙂

    Terimakasih sudah membaca
    Salam 🙂

    Nufus M. Zaki

    1. Wagwagwag… Terimakasih rekan 🙂
      Ya saat itu sempet jadi pusat perhatian saat mendaki gi sindoro..hihihi

      Terimaksih sudah mampir,,

      Salam Nufus M Zaki – Sebelum Pulang

  4. Yang saya perhatikan itu lingkungan tempat kemahnya bang. Cari-cari mana sampahnya wkwkw. Tapi alhamdulillah, kayaknya ga ada tuh. Baguslah, berarti pada sadar lingkungan 🙂

    Kalau dilihat dari besar tas carriernya, gak seberapa nyeremin ya xD biasanya ada tuh kan yang sampe lebih tinggi dari pendakinya.

    Dan pemandangan ketika sang baskara mulai menerangi sisi langit, terus siluet gunung nun di sana mulai terlihat…..wah masyaAllah deh, bagus sekali pake banget!

    1. Alhamdulillah Gunung Sindora kalo di bilang bersih, ya cukup bersih.
      Semoga pendaki semakin sadar akan lingkungan, terutama di gunung, hihihi
      Jangan melihat dari tas carriernya, karena para cowo cowo biasanya simple bawaannya jadi nggak terlalu serem tas carriernya, dan justru kita lebih enjoy.. hehehe 😀

      Alhamdulillah masih bisa menikmati pemandangan ciptaan Nya yang luar biasa… 🙂

      Terimakasih sudah mampir dimari 🙂

      Salam 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *