Kenapa Bicara Gula ???

Posted on Posted in Pustaka Nufus

Bicara gula, saya jadi inget era keemasan gula, pada waktu itu Indonesia pernah mengalami kejayaan pada tahun 1930, Di jaman itu indonesia pernah menjadi salah satu penghasil gula terbesar di dunia. Produksi puncak pada saat itu sekitar 3 juta ton dengan rendemen 11-13,8 persen (Sudana et al.,2000)

Sumber pexels

Kejayaan gula di masa lalu sebenarnya masih ada hingga sekarang. Bentangan kebun tebu yang begitu luas masih ada di berbagai daerah di Indonesia. Pabrik-pabrik gula yang masih ada sejak era kolonial pun masih beroprasi hingga sekarang.

Entah apakah korelasi antara digdayanya industri gula dimasa lalu dengan kebiasaan orang jawa yang lebih femiliar dengan rasa manis. Begini, kalau anda hidup sebagai orang Jawa, rasa manis dan gula sudah femiliar sejak lahir. Teh manis, kopi tubruk dibubuhi gula, biscuit manis, bahkan masakan pun ada yang manis-manis. Kebiasaan itu menjadi ciri khas orang Jawa yang bahkan membuat restoran minang di Jawa menyesuaikan selera lidah orang Jawa, masakan minang yang manis, pernah merasakan ?

Mungkin kalau dilakukan penelitian yang lebih komprehensif dengan pendekatan ilmiah dan sosial, bisa jadi etnis Jawa di Nusantara mengonsumsi gula lebih banyak dibandingkan etnis lainnya. Bisa jadi lho ya.

Kunsumsi gula sebagai orang jawa inipun yang mempengaruhi saya, sebagai orang Jawa yang dibesarkan dengan kebiasaan minum teh manis, rasa manis memang lebih akrab di lidah dibandingkan rasa lainnya. Tendensi selera akan rasa manis itu ternyata turun temurun, bisa jadi karena kebiasaan sejak kecil, bisa jadi juga secara genetis DNA orang Jawa sudah beradaptasi dengan rasa manis.

Sampai-sampai kalau masakan atau minuman tidak manis rasanya tidaklah afdhol.

Sumber pexels

Gara-gara kebiasaan makan atau minum yang manis manis saya jadi kepikiran apakah konsumsi gula saya itu normal atau tidak ya.? heemmms

Saya jadi ingat ketika saya berusaha menurunkan berat badan, hal yang saya lakukan pertama kali adalah mengurangi konsumsi gula. Gumpalan lemak yang ada di tubuh ini disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebih.

Apakah gula itu artinya negatif untuk tubuh ? Ya tidak, dalam takaran yang pas, tubuh justru membutuhkan gula. Secara fisiologis gula dibutuhkan sebagai sumber energi, asupan gula akan diserap tubuh dan dibagi ke bagian tubuh yang membutuhkannya. Baru sisanya akan di simpan sebagai cadangan energi, nah sisanya ini yang membuat saya khawatir.

Tapi, segala yang berlebihan kan tidak baik, gula juga demikian, jika konsumsinya berlebihan menjadi tidak baik.

Menurut Kementrian Kesehatan, konsumso gula yang ideal dalam sehari adalah 50 gram atau kira-kira setara dengan 4 sendok makan gula. Sementara badan kesehatan dunia / World Health Organization (WHO) malah memiliki batas ideal yang lebih rendah, yaitu 25 gram dalam sehari.

Itulah kira-kira konsumsi ideal untuk tubuh dan sebaiknya memang kita semua mengikuti anjuran tersebut.

Saya jadi ingat selama ini mungkin konsumsi gula saya berlebihan. Pagi minum teh manis, siang minum teh manis, malam minum kopi manis. Wah bisa jadi berkali lipat dari anjuran Kementrian Kesehatan, apalagi WHO. Saya jadi tau bahwa ada hal-hal yang harusnya saya kurangi jumlah gulanya.

Ternyata jika mengacu batas konsumsi gula yang ideal tersebut ternyata batas asupan gula harian sangatlah mudah terlampaui tanpa sadar, Iya tanpa sadar -__- karena selama ini saya tidak tau sebenarnya batas konsumsi gula yang pas itu berapa ?

Jika konsumsi gula yang berlebih justru tidak baik untuk tubuh maka seyogyanya kita mulai mengurangi konsumsi gula, loh ko jadi kita ..? oke saya ajah deh. Perhatikan jenis makanan yang dikonsumsi dan mulai disiplin untuk mengukur konsumsi gula kita, lah kita lagi 😀 iya iya saya ajah .. 🙂

Sumber pexels

Cara mengurangi gula mungkin bisa dimulai dengan hal-hal kecil, misalnya jika selama ini minum teh manis pagi hari dengan dua sendok teh gula, maka dikurangi menjadi 1 sendok teh bahkan tidak menggunakan gula sekalipun. Kopi juga begitu, jika mengkonsumsi kopi usahakan mengurangi jumlah konsumsi gula dan bahkan kopi tanpa gula, yang akhir akhir ini sudah saya terapkan coffee no sugar awalnya memang terasa janggal tapi perlahan lahan asalkan konsisten pasti terbiasa, dengan demikian tubuh bisa menyesuaikan diri dengan konsumsi gula yang ideal untuk tubuh.

So, sebagai orang Jawa yang memegang erat budaya eropa barangkali sudah identik dengan tendensi pada rasa manis, Namun bukan berarti kita harus selalu mengkonsumsi makanan atau olahan yang manis, pada titik tertentu saya bisa menjadi orang Jawa yang memegang erat budaya eropa yang suka rasa manis namun tetap memperhatikan asupan gula setiap hari.

Pustaka :

Sudana, W., P. Simatupang, S. Friyanto, C. Muslim dan T. Soelistiyo. 2000. Dampak Deregulasi Industri Gula Terhadap Realokasi Sumberdaya, Produksi Pangan, Dan Pendapatan Petani. Laporan Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.

Purwokerto 11 Oktober 2017

Nufus M. Zaki

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

5 thoughts on “Kenapa Bicara Gula ???

  1. Aku enggak begitu suka minum kopi
    teh juga kurang
    tapi aku suka yang manis, bapak ku orang jawa
    memang sih setiap makanan harus ada manisnya.. katanya itu menggambarkan kelembutan hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *