2 Pencapaian Penuntut Ilmu

Posted on Posted in Pustaka Nufus

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan” (Q.S Al Mujadillah; 11)

Membahas masalah ilmu dan penuntut ilmu adalah uraian yang menarik, kerena jika di cermati ayat diatas, tentang kalimat yang terakhir mengenai “ditinggikannya derat orang yang berilmu dan beriman”. Menuntut ilmu itu adalah kewajiban kita sebagai insan manusia.

Apa yang dicapai seorang penuntut ilmu?

suatu usaha pasti akan membuahkan hasil atau pencapaian, tidak terkecuali dengan seorang penuntut ilmu. Akan ada sebuah pencapaian dalam usahanya,

1. Keimanan Meningkat

Manusia haruslah selalu belajar dari ilmu padi, semakin berisi samakin merunduk. Artinya semakin luas ilmu itu, maka jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain. Sebenarnya ketika tingkat pengetahuan kita bertambah, disitu kita akan menemukan keimanan kita meningkat kerena semakin tinggi ilmu semakin kecil kita. Semakin takjub dengan kuasa Alloh Swt. Namun ketika keimanan tidak meningkat maka penuntut ilmu tersebut belumlah mendapatkan sebuah pencapaian yang sesungguhnya.

2. Keimanan Meningkat

Pencapaian kedua seorang penuntut ilmu adalah ilmunya bertambah atau bertambahnya ilmu pengetahuan. Dengan bertambahnya pengetahuan lalu tidak membuat kita sombong, namun lebih rendah hati. Itulah sebenarnya pencapaian seorang penuntut ilmu. Jika yang terjadi malah sebaliknya makan belum mencapai titik ini berberti.

Kenapa tidak boleh sombong ? Coba kita perhatikan pesan Buya Hamka berikut ini “Semakin luas ilmu seseorang, semakin sedikit ia meyalahkan orang” jika ada yang menyalahkan orang dan merasa benar sendiri, itu tandanya sedikit ilmu yang dia miliki, sedikit kitab yang dibaca dan guru yang ia temui. Karena jika ilmunya banyak, seseorang tersebut akan mudah menerima perbedaan, ingatlah bahwa ilmu itu seperti air, mengalir dari tinggi ke rendah.

Jangan hanya berpatokan pada 1 guru saja, karena sekurus kurusnya ikan ada dagingnya dan segemuk gemuknya ikan ada tulangnya. Seperti itulah kita seharusnya saat menimba ilmu, ambil dagingnya buang tulangnya. Karena setiap ulama itu adalah manusia dan tidak ada dari mereka yang sempurna.

Kedua poin ini tidak bisa di pastikan, berhati hatilah jangan sampai keimanan bertambah akan tetapi ilmu tidak bertambah atau ilmu bertambah tetapi keimanan tidak bertambah samasekali. Sungguh merugi kita jika demikian, karena keduanya berjalan selaras dan seiringan maka akan mendekatkan kita beberapa derajat dengan Alloh Swt.

Sekian dulu sedikit pembahasan sederhana kali ini. Semoga memberi manfaat dan apabila ada salah kata dari penulis itu murni kebodohan dari penulis, dan harus banyak belajar.
Terimakasih

Purwokerto, 03 Oktober  2017

 

Nufus M. Zaki

 

 

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *