Senandung Pengembara : Titik Nol

Posted on Posted in Kotak Pandora

Dia yang menyebut dirinya sendiri sebagai petualang, susungguhnya adalah sosok lelaki kurus lecil yang mencangklong ransel setinggi kepalanya, terseok menenteng tas plastik berisi tiga botol minuman bersoda dan lima bungkus mie instan seduh, berlari berburu buru takut kereta segera berangkat. Dia si calon penakluk dunia, terjungkal lalu tersungkur mencium lantai peron gara-gara menginjak tali sepatu yang lepas dari bot kedodoran sumbangan teman, kikuk memunguti mi instan yang menggelinding dan bunkusan roti yang terpelanting sampai lima meter.

Dia, si penggapai mimpi-mimpi setinggi langit, cuma mengumpat dalam hati, mengapa tidak ada satupun dari ribuan orang lalu lalang ini ada yang peduli, mengapa setiap orang hanya sibuk dalam perjalanan masing-masing, apakah dunia sudah sesadis ini. Dia sejatinya adalah seorang sarjana pengangguran, berambisi mewujudkan mimpi perjalanan akbar yang akan dikenang sepanjang hidupnya sendiri, ada yang bilang itu berani, ada yang bilang itu nekad, tidak sedikit yang mencemooh itu gila. Dia hanya membawa dua ribu dollar dan berhayal menuju Capetown di ujung Afrika Selatan seorang diri, hanya karana itu adalah titik terjauh yang mungkin diacapai dari beijing sini dengan lintasan darat tanpa naik pesawat.

Jauh. Katanya di tempat yang jauh di balik cakrawala sana, ada sebuah tanah harapan. Seperti halnya ibu yang melepas anaknya yang pergi merantau, dia pun percaya, di tempat yang “Jauh” itu, suatu hari nanti, segenap nasib akan berubah, manusia baru akan tercipta, semua mimpi akan jadi nyata, hidup bakal bahagia.

Jauh adalah kata yang mengawali perjalanan. Jauh menawarkan misteri keterasingan, jauh menebarkan aroma bahaya, jauh memproduksi desir petualangan menggoda. Jauh adalah sebuah pertanyaan sekaligus jawaban, jauh adalah sebuah titik tujuan yang penuh teka-teki. Para pengelana lautan Eropa berahun-tahun megarungi samudra luas, menyambung nyawa, menjinakan suku primitif di belantara. Para astronot dan kosmonot berlomba menginjakan kaki di bulan, menguak tabir angkasa. Deretan pengembara akbar menghiasi sejarah peradaban. Semua terjerat pesona kata itu: jauh.

Seberapa jauhnyakah “jauh” itu ? Beberapa lama untuk mencapainya ? Imajinasi liar manusia terus menggerus dimensi ruang dan waktu, terus berkelana menembus batas. Tentang kehidupan yang asing, paling berbeda, eksotis, ajaib, unit, pelik, antik, eksentrik,…Jauh.

Si petualang pun bermimpi, dalam lintasan yang begitu jauh menuju titik terjauh, dia akan melewati sebuah rute musafir legandaris dari zaman berabad silam. Jalur Sutra yang membaurkan berbagai kebudayaan Timur dan Barat, membangkitkan imajinasi dan romantisme, bayangan tentang barisan karavan unta yang melintasi gunung gersang, atau perampak di tengah kengerian malam, fatamorgana oasis, sampai kubah-kubah megah masjid dan makam dengan biru lazuardi dari dongengan Arabia. Permadani terbang, harta karun tersebunyi, putri cantik, pangeran rupawan…

Perjalanan…
Petualangan…
Kita berangkat…

*Titik nol : perjalananku bukan perjalananmu, Perjalananku adalah perjalananmu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

4 thoughts on “Senandung Pengembara : Titik Nol

  1. Bagi petualang yang terpenting bukanlah tujuan tapi perjalanan. Karena itu dia
    selalu memandang titik yang jauh untuk menikmati perjalanan. Katanya begitu.. Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *