Mimpi yang direstui orang tua

Posted on Posted in Kotak Pandora

Namanya air terjun telu (3), salah satu air terjun yang menarik untuk di kunjungi, terletak di salah satu desa di Baturaden, terkenal dengan 3 aliran air dan kesejukan airnya, air terjun yang mempesona. Terlindung diantara tebing-tebing tinggi di sisi hutan yang seolah menjaga keindahan sungai, agar tetap terjaga keindahannya.

Curug telu

Air terjun ini tinggi dan terkesan angkuh, ia mengalirkan air-airnya secara perlahan, tidak kasar, tidak menyakiti mahkluk hidup yang mencoba berdiri di bawahnya. Airnya di alirkan secara anggun melewati tebing tebing tajam yang bergerak megikuti alur sungai ke arah bawah, meliuk membentuk sungai kecil yang memukau siapa saja yang melihatnya.

 

Aku terpukau, pandangan tidak terhenti melihat bagaimana gesitnya sang air mencoba mencari jalan menuju sungai kecil indah yang terletak di bawah. Air-air itu terapung sebentar di genangan besar, kemudian melaju menabrak dinding batu besar. Tidak menemukan jalan turun, lalu bergerak ke arah lain. Perjuangannya belum selesai. Tidak jauh di depan, sebatang kayu besar yang tumbang akibat badai kemarin, menghalangi jalan mereka. Para air itu mencari akal. Mereka bergerak pelan melewati jalan sempit yang berada di samping kayu mengganggu itu. Berhasil, jalan mereka mulus sekarang.

 

Tapi ternyata dugaan mereka belum sepenuhnya banar. Sayang seribu sayang, dihadapan mereka menancap batu runcing panjang berlumut hijau mengerikan. Pilihan mereka hanya dua. Memaksa tetap menghantam sang batu runcing lalu terhempas ke luar alur sungai atau berpisah dulu sementara waktu melalui dua jalur yang berbeda. Mereka memilih berpisah, mencari yang terbaik lalu bertemu kembali dengan teman-temannya di sungai kecil indah yang terletak di bawah.

 

“Itulah mimpimu, sayang. Perumpamaan seperti air yang mencari jalan..” Suara ibu, terngiang-ngiang di telingaku bagaikan melodi musik klasik yang di stel berulang-ulang, lembut tetapi menancap di dasar hatiku yang paling dalam.

 

“Air itu seperti mimpi-mimpimu, sayang. Mereka mencari jalan. Tujuannya satu : ‘Kamu ingin supaya mimpi-mimpimu itu terwujud.’ Sama seperti air yang mencari jalan menuju pemberhentian terakhirnya. Ada saatnya, mimpimu tidak tercapai seolah menabrak batu besar yang tidak bisa di tembus. Ada juga masanya, dimana mimpimu seperti tersandung kayu yang menghalangi jalan. Ada saja cobaan yang muncul. Ada juga dimana, kamu terjatuh tertusuk batu runcing yang membuat mimpimu seolah-olah menyakitkan, susah sekali dicapainya. Kalau sudah begitu, ingat sayang, jangan di paksa”

 

ibu tersenyum lembut, “Jika mimpimu terasa sulit sekali tercapai, merasa sudah mati-matian berusaha tetapi terasa tidak ada hasilnya, mungkin itu tanda-tanda kasih sayang dari Allah bahwa itu bukan mimpi yang terbaik untukmu, sayang. Kuncinya, jangan ngotot memaksa. Air tidak bisa menembus halangan besar di depannya. Mereka mencari jalan lain. Cari mimpi baru yang sesuai keinginan di lubuk hatimu yang paling dalam, sesuai passion-mu, sesuai harapanmu. Hingga di ujung perjalananmu, Allah bersedia memberikan Surga-Nya untukmu.”

 

Maka aku tumbuh menjadi pribadi yang selalu mencari jalan, jika aku sudah memiliki suatu keinginan, pasti selalu berusaha aku kejar. Seandainya restu orang tuaku belum aku pegang, aku akan mencari banyak cara yang santun sehingga pada akhirnya izin ibu aku dapat. Cara A tidak berhasil, ganti cara B. Tidak berhasil juga, cara C, pindah ke cara D, Sembari meminta izin terus menerus kepada Allah. Hingga pada akhirnya Allah mungkin melihat kesungguhanku mengetuk pintu langit dengan doa yang sama selama bertahun-tahun. Ntah bagaimana cara Allah meluluhkan hati orang tuaku sampai pada akhirnya aku mendapat izin. Intinya, aku rela menunggu bertahun-tahun sampai doaku di kabulkan. Dalam kepalaku, jika sekarang doaku belum di kabulkan, berarti doaku masih di tunda oleh-Nya. Ya, aku memang hamba yang keras kepala dalam berdoa. Seperti anak kecil yang setiap hari mengetuk pintu langit-Nya, aku membayangkan ada cahaya teduh yang membuka pintu itu setiap aku berdoa, kemudian aku nyengir lebar dengan kedua mata berbinar ketika pintu itu di buka, tangan mengadah ke atas sambil berdoa di depan pintu-Nya. Begitu terus setiap hari.

 

Dari semenjak lulus D3 Produksi Ternak Universitas Jenderal Soedirman 2016, aku ingin sekali bisa langsung Alih Program S1 di tahun yang sama. Impian itu yang tidak pernah pudar, setelah wisuda mencoba mendaftar S1, akan tetapi karena restu ibu belum di dapat, terasa alot perjuangan ini, banyak halangan disana sini, beliau sepertinya ingin anak laki-lakinya segara menggenggam estafet tulang punggung keluarga, menggantikan bapak yang sudah lanjut usia. Misalnya ketika beliau berkata “Mas Nufus kerja dulu ya, ada adik-adik yang pengin lanjut sekolah dan yang sedang menempuh Mts, bapak juga sedang sakit, kerja dulu nang…”
Ini adalah contoh kalimat penolakan orang tuaku yang dikatakan secara halus.

 

Dan terbukti, dengan berbagai cara Allah juga tidak mengizinkan, sehingga aku memang harus bekerja terlebih dahulu selama 2 tahun, alhamdulillah selama aku bekerja, bisa membantu menopang perekonomian keluarga, menyekolahkan 2 adik ku dan mensolusikan bapak yang harus kontrol HD di Rumah Sakit dengan jaringan ambulan gratis. Selama itu juga aku terus meminta restu kepada ibu agar diberi izin lanjut kuliah S1, setiap kali pulang dari purwokerto membawa oleh oleh utuk ibu, menyenangkan hati orang tua dengan cara menjadi anak yang nurut kepada orang tua, siap melaksanakan segala perintah orang tua, menjadi anak yang rajin beres-beres rumah, membantu ibu memasak di dapur, memberikan seluruh gaji ku kepada orang tua, segala hal yang membuat orang tua senang aku lakukan. Dua tahun aku berusaha membujuk orang tuaku, dua tahun pula, aku berdoa. Sampai akhirnya tahun 2018 setelah lebaran idul fitri beliau memberikan izin dan restu untukku melanjutkan study S1

 

Semenjak awal aku memang berniat untuk study S1 dengan biaya sendiri, entah nanti bekerja dan mencari beasiswa. sedikit sedikit mengumpulkan uang untuk pendaftaran, dalam benakku semoga saja aku bisa bekerja sambil kuliah atau kuliah sambil bekerja, entahlah mana yang benar, yang jelas aku ingin bisa kuliah dengan biaya sendiri dan tidak lagi membebani orang tua, aku ingin mandiri, latihan hidup, menjalani kehidupan orang dewasa yang harus serba bisa menghadapi masalah. inilah hidup. “…kalau boleh tau berapa usiamu Nufus ? 23 aku jawab sendiri dalam batin…” 

 

Doaku tak pernah berhenti, kawan. Mungkin Allah geleng-geleng kepala karena setiap hari aku menunggu sambil mengetuk di depan pintu langit-Nya, dengan cengiran yang sama, dengan doa yang sama. Maka kali ini doaku Allah kabulkan, Allah turunkan bala bantuan-Nya agar membantuku untuk pergi kesana. Ntah bagaimana pendaftaran Alih Program pun dibuka di tahun 2018 yang rumornya itu adalah alih program yang terakhir di tahun itu. Izin ibu sudah aku dapat, subhanallah dengan segala proses dan tahapnya entah mengapa pendaftaran S1 kali ini begitu mulus dan mudah, dimulai dari proses pendaftaran mahasiswa baru, tes psikologi, tes tulis ujian kompetensi sampai dengan wawancara pun berjalan lancar. Bahkan sampai Uang Pangkal pun dengan kun fayakun-Nya aku dibantu oleh kebijakan dekan yang baik hati, untuk uang semester ? alhamdulillah uang semester pertama aku dibantu oleh seorang yang sangat baik, beliau mau membayar uang semesterku dengan senang hati, beliau sudah bagaikan ibu keduaku di purwokerto, tempatku nunut urip sewaktu dulu aku mengerjakan tugas akhir D3.

 

Usahaku berlanjut mengajukan proposal pengajuan bantuan pendidikan di salah satu Lembaga Amil Zakat, tepatnya ditempatku bekerja selama hampir 2 tahun, Laz Al-Irsyad Al-Islamiyyah Purwokerto. Hasilnya sungguh luar biasa, pimpinan memeberikan support serta memberikan kebijakan “…Okey Nufus, untuk pendidikanmu insyaalloh kami siap membayar uang semester sampai lulus, tapi dengan syarat kuliah yang serius ya?…” dengan bahagia bercampur haru aku menjawab “…Siap Ustadz, alhamdulillahirabbil alamin terimakasih Ustadz…” dengan senyum bahagia aku keluar dari ruang pimpinan dan segara memberitahukan kabar ke orang tua, lagi-lagi orang tua malah menangis, menangis bahagia, itu yang ku amati dari nada bicara ibu lewat telepon.

 

Sekarang saat aku menceritakan ini, prosesku adalah tinggal menunggu hari pertama masuk kuliah di Universitas Jenderal Soedirman, Terimakasih kepada ibu ibu dan ibu ku ucapkan, restumu menembus langit-Nya.

 

Seandainya pada waktu itu aku memutuskan untuk tidak mempercayai keputusan-Nya, maka aku tidak akan pernah melihat doaku sedang dalam proses dikabulkan oleh Allah. Setelah proses perjuangan panjang mengururas hati dan tenaga melewati ujian berat itu, tetap sabar akan cobaan yang Allah berikan kepadaku, tidak peduli akan fitnah yang menyebar kemana-mana, pola pikirku untuk menghadapi fitnah itu cuma satu, “Aku punya Allah yang lebih besar. Orang yang memfitnahku tidak ada apa-apanya dengan Tuhanku yang maha besar. Biarlah ia dengan fitnahnya, Allah akan selalu menunjukan dengan cara-Nya kebenaran yang sesungguhnya. No matter what happens to me, I will stay elegant in the end.” Berdiri tegak dengan doa yang sama tanpa henti. Allah is always with me. Always. 

 

Memang benar apa yang aku duga,ujian ini adalah proses pengabulan doaku yang tidak pernah terhenti. Jawaban doa itu datang di waktu yang tepat. Setelah ujian kesabaran yang sangat panjang. Masa depan adalah misteri, entah didepan ada keputusasaan atau harapan, justru karena misteri maka dari itu aku harus tetep melangkah. Maju menerjang segala masalah yang ada. ah lagi lagi aku teringat kata dari Hamka.

 

“Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.” Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

kata-kata itu seolah menjadi mantra bahwa lelaki itu hakikatnya itu buat berjuang. Aku memang anak dari orang tua yang paling susah di suruh diam. Tidak bisa diam dan menunggu di suatu tempat. Ketidakpastianlah yang membuat jiwa ini terus maju, semakin unik masalahnya, semakin samangat mencari solusinya. Semakin doa ditolak oleh-Nya, semakin gencar mengetuk pintu langit agar doaku dikabulkan oleh-Nya. Doa itu dapat mengubah takdir, maka doa adalah senjataku yang tidak pernah padam.

Begitulah, aku.seorang laki-laki yang tumbuh dengan kepercayaan penuh bahwa doa adalah senjata terkuat umat Islam. Mimpi itu mencari jalan dan hanya Allah yang dapat membuka jalan itu. Bagaimana caranya agar jalan itu terbuka ? Berdoa, ketuk pintu langit sesering mungkin. Tapi ingat ya, doa yang berat, konsekuensinya juga berat. Bisa jadi cara Allah mengabulkan doa kita yang berat itu, dengan memberikan ujian yang besar agar doa kita terkabul. Aku pernah merasakannya, jadi aku tahu rasanya. Kapok ? Tidak. Dari ujian yang berat itu aku semakin yakin, bahwa Allah selalu mengabulkan doa kita dengan cara-Nya bukan dengan cara kita.

Jika cara Allah mengabulkan doaku tampak berat dari sudut pandang manusia, aku selalu ingat nasihat ayahku, “Sabar nak, pelaut yang ulung tidak akan pernah lahir dari laut yang tenang. Orang-orang hebat tidak akan pernah lahir tanpa cobaan dan ujian.”

Dengan ini, bukan berarti ini adalah akhir dari perjuanganku. Justru ini adalah awal dari sebuah perjuangan yang baru. Semangat Nufusss 🙂

Nb : Terimakasih sudah mampir, sejujurnya aku ingin Nufus junior bisa membaca ini, untukmu nufus junior kamu dimana ? eh aku cari ibumu dulu deh. ehh apaan si, fokus fus fokus 🙂 Kuliah dulu selesaikan.. hihihihi

Salam manis

Nufus M. Zaki – Sebelum Pulang
13 Agustus 2018 Purwokerto Mess Karyawan .

berikut adalah foto yang tidak nyambung, aku pasang karena buat hiasan saja, siapa tau ada yang tertarik, ehhemm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 thoughts on “Mimpi yang direstui orang tua

  1. Air terjunnya keren banget…pasti dingin menusuk tulang ya..
    Perumpamaat yang cocok menurut saya. Mimpi memang seperti air yg mencari jalan untuk pemberhentian akhir. Jangan mudah menyerah, selagi masih muda, selagi masih bisa kenapa harus ada kata berhenti untuk menggapai mimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *