Kotak Kata 03 : Perempuan Dalam Secangkir Kopi

Posted on Posted in Kotak Pandora

Sepolos kopi hitam tanpa gula, pekatnya ruh adalah ampas yang menyatu dengan kalimat. (F. Christy R.)

Kadang kita terlalu terburu waktu, memandang yang indah dan bernafsu, kadang mananti hangat kopi perlu dipelajari lagi

aku memandangmu tersenyum di permukaan kopiku dan kunikmati tiap senyum pahitmu

coba saja kau lihat di ujung malam, mungkin bintang sedang bersemangat menggoda kopiku. Sayang, kopiku terlalu pekat dalam kesetiaan

kopi yang kini sudah tak lagi panas, pahit dan dingin, tetap kutelan meski perlahan, terucap ikrar penantian diaamiinkan kopi yang diam

kopi itu punya pecinta dan penikmatnya sendiri. jangan menghakimi kopi, karena disecangkir kopi selalu ada hangat utuk dibagi

aku menyukai malam, ada secangkir kopi dan kamu yang hanya tersisa pahitnya. Ampas kopi seperti rindu, mengendap ikhlas tanpa minta tuk diteguk

secangkir kopi pagiku dihidangkan oleh perempuan dari masa depan bermata indah dan pipi bakpao

kalau ada yang bilang wanita penikmat kopi itu kuat, jangan percaya. itu bohong, dia akan menangis jika sendirian

biarkan, biarkan aku mengingat kenangan indah pada hangatnya secangkir kopi, bukankah itu lebih setia

dirimu teraduk dalam cangkir senja yang membumi, tetap jadi yang terbaik dari yang terbaik ya

aku meyukai kopi karena paham, benar tak selalu menyiksa dan manis tak akan selalu indah, ada kekuatan diantara pahit manisnya kita

cinta itu disana, dipermukaan cangkir yang kutuang dengan cara yang sederhana dan tersenyum kepadamu seperti biasa

hanya pada secangkir kopi ini aku mampu bicara, itupun tak semua.

Hastag Nufus Sok Puitis
Purwokerto, 11 April 2017

The relationship between a perfect cup of coffee and a writer is just like the couple who always standby and feel proud of being committed to each other. (Himmilicious)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

26 thoughts on “Kotak Kata 03 : Perempuan Dalam Secangkir Kopi

  1. Dan sekali lagi. Bukankah kepahitannya menyisakan rindu. Bukan hanya rindu, tapi rasa. “Tapi, dia kan tapi memakai pemanis”, bukan.. bukan karena manis dia memiliki rasa. Kau tahu, rasanya ada disini “hati”.

    Congratz buat Nufus yg mulai bisa gombal dengan puisi pahitnya. Saya suka. Sekali lagi selamat. Salam Deenee

  2. Wah, pagi ini saya bw dan langsung disajikan puisi yang manis banget.

    Keren…

    Saya suka dan penikmat puisi. Jadi kangen nulis puisi lagi. Beberapa kali mampir belum meninggalkan jejak, sekarang napak di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *