Berjuang

Posted on Posted in Kotak Pandora

Waktu sungguh cepat berlalu, membuat apapun yang dilewatinya tarkesan berlalu begitu saja, mengobati luka di setiap kenangan, dan membuatnya menjadi kenangan masa lalu. Rasanya baru kemarin aku melepas gelar mahasiswa di kota ini, setelah meyandang status pengangguran (Red-fresh graduate) aku berfikir untuk bisa bekerja di dearah purwokerto dan sambil mengumpulkan pundi pundi uang untuk melanjutkan study lanjutku di kota purwokerto dengan universitas dan fakultas yang sama.

Baru 3 bulan menganggur mungkin bagi orang lain adalah waktu yang sebentar,tapi tidak bagiku baru 1 bulan setelah aku lulus, tekanan mulai datang dari segala penjuru, terutama dari orang tua yang menginginkan anak laki-lakinya untuk cepat mendapat pekerjaan, karena pada saat itu adalah bulan akademik pergantian semester genap ke semester ganjil, beliau mengiginkan agar aku segara bekerja dan langsung menggenggam estafet tulang punggung keluarga, karena bapak yang saat itu sedang sakit. Kedua adikku juga menjadi alasan kuat kenapa beliau ingin aku segera bekerja, karena ada pendidikan adik adik yang harus di perhatikan.

 

Setelah hampir 2 tahun aku bekerja di lembaga sosial, laz lebih tepatnya Lembaga Amil Zakat, sedikit demi sedikit aku bisa membantu menopang perekonomian keluarga, bisa menyekolahkan adik adik dan mensolusikan transportasi bapak yang harus control hemodialisis 2 minggu sekali menggunakan ambulan gratis antar jemput ke rumah sakit.

 

Waktu terus beranjak dan semakin beranjak, ku beranikan diri ini untuk mohon izin ke orang tua untuk melanjutkan study ku yang sempat tertunda dan digantikan oleh misi keluarga, berbekal kesabaran dan konsisten setiap kali aku pulang ku coba untuk menyenangkan hati orang tua.
Bu tahun ini Nufus lanjut S1 ya, boleh ya bu ?”
“Nang, kalau kamu lanjut sekolah nanti siapa yang bantu bapak ?”
Insyallah bu, selagi nufus masih sehat masih diberi kesempatan umur panjang, sebisa mungkin nufus coba untuk bisa bekerja sambil kuliah. Biarkan bu, biarkan anak lelaki ini berjuang di jalan yang di pilihnya.

 

Aku tak mau meninggalkan misi keluarga dan enstafet tulang punggung keluarga, aku ingin adik adik lanjut sekolah, aku juga ingin setiap bulan bisa memeberi ke orang tua sebagai bakti anak lelaki, tapi aku juga punya cita cita, cita cita yang tidak boleh dibunuh atas nama rutinitas. Selagi masih muda ku tak mau membuang waktuku, aku memang egois, ingin semuaya berjalan seseuai kehendak.

 

Akhirnya dengan restu orang tua, dan degan restunya itulah aku sudah sampai pada tahap ini, tahap pendaftaran alih jenjang S1 Fakultas Peternakn Universitas Jenderal Soedirman. Tanggal 24 juli 2018 nanti aku akan ujian tertulis mohon doanya ya teman temanku.

 

 “Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.”

― Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Mendengar kalimat Hamka, membuat semangatku berkobar, yah memang begitulah seharusnya, lelaki hidupya adalah berjuang. Terimakasih kepada orang tua yang memeberi izin dan doa, biarkan bu biarkan aku berjuang di jalan yang aku pilih, di jalan yang sedang aku perjuangkan, tak perlu risau nanti aku bapal kelaparan, kedinginan, pegang uang gak pegang uang, sakit atau sehat, sedih ataupun senang, entah di depan sana keputus asaan atapun harapan, yang jelas itu masih misteri. Lelaki hakikatnya adalah berjuang. Majulah …..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *