Lost in Merbabu Mountain

Posted on Posted in EXPEDISI, GUNUNG

Halo gaes, ini pertama kalinya aku nulis blog setelah sekian lama vakum di dunia blogging, jadi harap maklum kalau rada belepetan hahaha. Kali ini aku mau cerita pengalamanku mendaki gunung. Sekitar 2 minggu yang lalu aku sama nufus (yang punya blog) n Febri pergi mendaki gunung Merbabu di Boyolali, Jawa Tengah. Ini adalah kali kedua aku mendaki, dan masih bersama orang-orang yang sama (Nufus n Febri). Singkat cerita siang itu kita sudah ada di puncak, *eh kejauhan hahaha, rewind-rewind. OK.

Berawal dari ajakan bang Nufus untuk mendaki lagi(ini kali kedua kita mendaki bareng) akhirnya aku memutuskan ambil cuti selama 3 hari dari tanggal 31 Maret – 2 April. Agak alot sebetulnya ngambil cuti di akhir bulan, tapi dengan sedikit negosiasi akhirnya lolos juga hehehe. OK izin cuti sudah didapat, H-7 kami bertiga bertemu untuk membuat planning dan listing persiapan pendakian. Planning pertama adalah transportasi, mengingat jarak Purwokerto (tempat di mana kami tinggal) ke Boyolali lumayan jauh, jadi mesti diplanning agar waktunya pas. Setelah lumayan lama berdiskusi, diputuskan bahwa Nufus n Febri naik motor boncengan, sementara aku naik bus. Lalu listing logistik dan perlengkapan, dari carrier, tenda, sleeping bag, dan segala macam peralatan pendakian lainnya.
Sampailah kita di hari H, alhamdulillah cuaca hari itu cerah sekali, dari rumah sekitar jam 8 berangkat ke Purwokerto(kota) tepatnya ke terminal Bulupitu. Sementara itu Febri n Nufus berangkat menggunakan motor dan kita janjian ketemuan di basecamp. FYI, dari terminal Purwokerto itu gak ada bus yang langsung ke Boyolali, jadi mesti cari yang jurusan Magelang. Bus Mulyo, salah satu PO bus jadi pilihanku untuk menuju Magelang. Bukan Bus AC sih memang, tapi lumayan nyaman kok naik bus Ekonomi juga.

Sekitar jam 9, bus sudah berangkat ke kota tujuan. Naik bus ekonomi punya keunikan tersendiri, yaitu banyaknya pengamen dan pedagan asongan yang masuk. perjalanan dari Purwokerto ke Magelang menggunakan bus itu lumayan lama, karena bus yang aku tumpangi lewat jalur selatan, jadi lumayan lebih jauh kalo dibandingin lewat wonosobo. Tapi ini jadi pengalaman baru, karena sebelumnya gak pernah lewat jalur ini. Melewati kabupaten Kebumen, bus sudah sampai di terminal Purworejo sekitar jam 1 siang, dari terminal Purworejo nyambung bus Budiman untuk langsung menuju ke Terminal Magelang. Oh ya ini udah gak perlu bayar lagi, karena udah dibayarin sama kondektur bus sebelumnya.

Berbeda dari yang sebelumnya, bus ini sudah ada AC nya, nyaman sih, cuman busnya lumayan penuh, hampir semua kursi ditempati. Perjalanan dari Purworejo ke Magelang sekitar 1 jam.
Jam 2 siang bus sudah sampai di terminal Tidar Magelang. Di sini bus cuma lewat karena tujuan aslinya itu ke Kota Semarang. Aku pun turun dan mengambil carrier yang ditaruh di bagasi. Dari sini mulai terdengar dialek-dialek khas jawa tengah bagian timur yang halus sekali bahasanya, enak didengar. Baru turun beberapa menit, hujan turun lumayan deras, dengan cepat aku memasang cover carrier biar gak basah. Dari terminal Magelang perjalanan dilanjutkan menggunakan mikro bus jurusan Blabak, nunggunya lumayan lama, sekitar 20 menitan, jadi mesti sabar.

Buat yang gak terbiasa melakukan perjalanan “ngecer” kaya gini mungkin akan sedikit boring-boring nggilani yah. Sampai akhirnya saya sampai di pertigaan Blabak, di sini saya mampir dulu di Alf*mart (sebut saja alfamart). Membeli perbekalan yang belum saya beli seperti air minum, karena berat jadi mending saya beli di sini. Untuk mendaki gunung Merbabu saya membawa 3 air mineral 1500ml. Ini sudah cukup untuk minum 1 orang. Perjalanan dilanjutkan menggunakan angkot jurusan Sawangan, di angkot yang penuh sesak ini saya banyak ditanya-tanya sama anak Sekolahan yang baru pulang sekolah.

Perjalanan dari Blabak ke Sawangan ini banyak menanjak, sayangnya karena cuaca saat itu sedang hujan saya gak banyak bisa melihat pemandangannnya karena tertutup kabut. Sampailah saya di Sawangan, titik pemberhentian angkot ini, sayangnya saya lupa tarifnya, ya sekitar 4000-5000an lah. Dari sini menurut yang saya dapat dari mbak-mbak penjual sossis bakar di sawangan sebenarnya ada angkot yang menuju ke Selo tapi hanya sampai jam 2 siang saja. Dan di situ sudah sekitar jam 3 sorean.

Sempat diputuskan untuk mendaki esok harinya, karena cuaca juga tidak terlalu mendukung, namun salah satu teman mendaki saya, Febri nekat menjemput saya di Sawangan yang jaraknya kurang lebih 17-20 km dari Selo. Dari sini sebetulnya udah gak enak hati yah, karena jalannya memang rusak sekali dan cuaca juga hujan, kalo dinginnya jangan ditanya, di daerah ketinggian kaya gini, siang hari gak hujan saja sudah dingin.
Setelah menunggu Febri yang kembali turun menjemput saya, kami berdua langsung meluncur ke Selo. Hujan sudah reda, saya gak pake jaket waktu itu karena jaket ada di dalam carrier dan males untuk ngambilnya, hanya pake kaos tipis saja, dinginnya luar biasa gaes. Jalannya rusak parah, bahkan di beberapa titik banyak genangan air sampai setengah lutut yang banyak mengganggu perjalanan. Sekitar 1 jam perjalanan akhirnya sampai di Selo, tepatnya di depan Polsek Selo, di sini kita istirahat sebentar, basecamp sendiri masih sekitar 3 km masuk gang di samping polsek Selo. Di pos penjagaan sebelum masuk basecamp, kita bertemu 3 pendaki asal Jogja. Kita sempat mencoba mencari basecamp yang jalurnya masih jalur lama, tapi jaraknya lebih jauh, dan jalur ke gunungnya juga lebih jauh kalo dari info yang kami dapat, jadi akhirnya diputuskan untuk turun lagi dan lewat jalur Gancik, basecampnya lebih dekat dan ini merupakan jalur baru yang lebih dekat perjalanannya ke gunung.

Oh ya, berbeda dari gunung Sumbing yang pernah saya daki, di Gunung Merbabu ini basecampnya banyak sekali, tepatnya ini rumah-rumah warga sekitar yang dijadikan basecamp. Bebas pilih di mana saja sih, yang penting masih kosong aja basecampnya. Febri yang ada di depan membawa motornya memilih basecamp Mas Kucing sebagai basecamp kami singgah. Rupanya pendaki dari Jogja juga ikut ngecamp di sini. Ibu pemilik Basecamp dan anaknya menyambut kami dengan ramah mempersilahkan kami masuk dan meletakkan barang-barang yang kami bawa. Di basecamp kami melakukan registrasi dan pembayaran tarif masuk, dan lain-lain, termasuk asuransi juga yah. Kami istirahat sejanak sambil minum-minum (minum air putih tentunya, jangan negativ thinking kamu :D), makan-makan, charging-charging gadget dan berkenalan dengan pendaki Jogja dari pos penjagaan tadi bareng kita, ada mas Dika, mbak Elen, dan mbak Inggrid, ini ketiganya pendaki level expert sudah banyak gunung yang mereka bertiga daki.
Di sini kita banyak sharing-sharing seputar dunia pendakian dan bertanya-tanya ke ibu pemilik basecamp. Jadi, sebenernya sebelum ada jalur baru ini, si ibu ini memelihara Sapi , dan kalo nyari rumput itu bisa nyampe pos 2, buat orang-orang daerah sini pos 2 itu termasuk dekat, hanya 30 menitan mungkin, kopassus saja kalah mungkin hahaha. Kami bertiga putuskan untuk mulai nanjak malam itu, sekitar jam 21.00, dan pendaki Jogja ini juga katanya mendaki malam itu juga. Sebelum memulai pendakian saya checking ulang kelengkapan, dan nyoba-nyoba action kamera yang saya bawa. Tidak lupa saya juga mengisi perut dengan sepiring nasi goreng dan teh manis yang bisa dipesan ke ibu basecamp. Jam menunjukkan sekitar pukul 21.00 kami bertiga berpamitan dengan ibu basecamp dan pendaki Jogja yang nanti bakal menyusul setelah kita naik.

Kami bertiga breafing sebentar di depan basecamp dan let’s go pendakian dimulai!. Perjalanan awal dimulai melalui jalanan cor-coran dengan pinggiran jurang dan pemandangan kebun sayur-sayuran. Di sini juga merupakan jalur ojeg dari bawah menuju tempat wisata Gancik Hilltop, yang pada saat itu sih tidak ada, mungkin karena habis hujan yah dan hari juga sudah malam. Kami juga melewati semacam penampungan air, di tempat ini air disalurkan ke rumah-rumah warga di bawah, kami terus melanjutkan perjalanan hingga sampai masuk kawasan wisata Gancik Hill Top, di sini pemandangannya bagus banget gaes, gunung merapi di seberang sana terlihat sangat jelas walau sudah malam sambil sesekali terlihat kelipan-kelipan cahaya dari lampu pendaki Merapi.

Di sini suasana hutan baru mulai terasa, sepi sekali dan sudah tidak ada rumah warga yang kami lewati. Dan rupanya dari jauh sudah terlihat pendaki Jogja sudah mulai mendaki. Kami pun terus melanjutkan perjalanan malam memasuki hutan, medannya masih banyak menanjak ya gaes sambil sesekali berhenti menarik nafas panjang dan minum.

Hari sudah semakin malam, karena fisik yang sudah mulai lelah, sekitar jam 11-12 malam, kami memutuskan untuk istirahat sambil minum coklat panas lalu mendirikan tenda dan tidur, yang pada waktu itu jaraknya sebenernya sudah dekat sekali dengan POS 1. Sesuai kesepakatan kami bangun jam 2-3 dan kembali packing untuk melanjutkan perjalanan. POS 1 terlewati, kita masuk ke hutan dengan vegetasi rumput lebat di kanan kiri yang tingginya sekitar 1,5 meter dan mendannya sudah mulai landai.

Sampai kami melewati POS 2 yang pada saat itu kita tidak melihat patokan tulisannnya. Dan melewati juga tenda biru yang kayanya punya pendaki Jogja yang sudah melalui kita pas kita ngecamp di bawah. Kami terus melanjutkan perjalanan santai sampai jam 5 pagi, pemandangan sunrise yang kita idam-idamkan mulai nampak, beruntung sekali cuaca pagi ini sangat cerah sehingga dapat banyak mengambil gambar pemandangan sunrise dengan view gunung merapi di sampingnya nan elok.

Tidak lupa kami juga memasak air membuat coklat panas dan memakan roti tawar yang kami bawa. Rasanya nikmat sekali pastinya menyaksikan pemandangan indah dengan suasana dingin pagi buta sembari makan-makan nggilani gaes. Matahari semakin naik, sekitar jam 6 kami kembali melanjutkan perjalanan, kita menemukan tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Sebelum tenda didirikan kami sempat istirahat di dekat jalan dan ketiduran sekitar 1 jam.

Nyaman sekali tidur di tengah teriknya matahari ditengah suhu yang dingin walau hanya dengan beralaskan matras, dan menutup wajah menggunakan sarung agar tidak terbakar. Setelah bangun kami bergegas mendirikan tenda dan persiapan summit attack. Karena akan lebih ringan ketika ke summit dengan membawa sedikit barang yang diperlukan saja. Kami hanya membawa 1 carrier dan tas kecil pribadi untuk menuju puncak. Sementara tenda dan 2 carrier lainnya kita tinggalkan untuk mengurangi beban.
Sampai tibalah kita di Sabana bayangan, pemandangan seperti bukit teletubbies yang luas dengan hamparan bunga edelweis disampingnya. Berfoto-foto sejenak perjalanan terus dilanjutkan. Di POS 3 kami bertemu banyak pendaki yang ngecamp di sini, salah satunya rombongan pendaki dari Jakarta yang berjumlah sekitar 10 orang dan seorang guide. Setelah berkenalan dan berbincang-bincang nggilani dengan pendaki Jakarta, kita akhirnya ke puncak bareng mereka. Kami bertiga dan 6 orang dari Jakarta siap menuju puncak untuk menyelesaikan misi hahaha, sementara guide meraka dan beberapa rekan mereka tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Selain itu juga ada beberapa rombongan pendaki yang hanya sampai di POS 3 ini dan tidak melanjutkan perjalanan.

Setibanya di Sabana 1 di sini kita banyak makan-makan dan berfoto-foto nggilani karena pemandangan di sini adalah yang paling bagus kalo menurut saya sejauh ini.

Sayangnya setibanya di sabana 2, di mana ada sekitar 3 tenda berdiri kabut mulai turun, sebelum kabut semakin tebal, kami bergegas melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan ke puncak kami banyak bertemu pendaki-pendaki yang baru turun. Termasuk 2 orang trail runner dari Jogja. Dan ketika sudah dekat ke puncak cuaca mulai mendung dan petir-petir nggilani mulai terdengar. Di sini kepanikan terjadi karena ternyata kami bertiga meninggalkan jas hujannya di tenda. Kami berada di pilihan yang sama-sama kurang menguntungkan, antara turun kembali ke camp atau naik ke puncak yang sudah lumayan dekat.

Setelah membuat coklat panas untuk menghangatkan badan dan sambil menunggu cuaca membaik, kami putuskan untuk terus naik walau cuacanya masih sama. Di tengah perjalanan ke puncak, yang kami tidak harapkan terjadi, hujan deras mengguyur, kami kembali berdiskusi alot di tengah-tengah pepohonan sambil berteduh. Antara naik ke puncak atau turun ke tenda, sementara pendaki dari Jakarta sudah duluan naik walau sebenarnya mereka juga sempat menunggu kita.
Jika kita tetap naik ke puncak resiko yang kami hadapi adalah petir dan hipotermia, karena perjalanan ke puncak lalu turun lagi ke camp tidaklah dekat, berada pada suhu yang sangat rendah dalam waktu yang lama memungkinkan sekali terkena hipotermia. Namun karena sudah kepalang tanggung dan basah, kita memutuskan untuk tetap fighting melawan hujan dan melanjutkan perjalanan ke puncak.

Jaket dan celana mulai basah, hingga akhirnya basah kuyup total, tapi puas sekali ketika akhirnya kita sudah sampai di puncak yang sayangnya waktu itu plangnya sudah tidak ada entah dibawa orang atau terbawa angin. Dan beberapa menit kemudian kami bertemu dengan dua orang warga Selo suami istri yang baru pulang mencari tumbuhan obat dengan mengenakan mantel plastik seadanya, entah darimana mereka, sempat berbincang-bincang sebentar dengan kami mereka berdua turun ke bawah menembus hujan.

 

Nufus(kiri) dan Febri(kanan), 2 warga lokal(kanannya lagi)

Di puncak kami sempat breafing dan berfoto-foto sejenak. Sekitar 15 menit kami di puncak kami, karena cuaca yang makin memburuk, walau sempat sedikit reda sebelumnya, kami langsung turun kembali ke tenda. Dengan sedikit berlari kami turun agar tidak terasa terlalu dingin, sempat juga mendapati mantel plastik bekas yang ditinggalkan di jalan, saya pakai, walau sudah tidak terlalu membantu karena badan sudah basah, tapi lumayan mengurangi sampah kan ya :). Kami terus berlari melewati sabana 2 yang sudah ditinggalkan penghuninya.

Sampai melewati sabana 1, sekitar 20 meter sebelum tenda, sayang sekali sandal yang saya pakai putus karena tidak kuat dan dengan menggunakan 1 sandal saja akhirnya tiba di rumah kecil kami sekitar jam 3 sore yang kami khawatirkan karena anginnya juga lumayan besar walau hujan sudah cukup lama reda. Tanpa menunggu lama aku dan Nufus langsung berganti pakaian bergantian. Sementara Febri masih diluar dan akhirnya malah tidur dan menggigil karena tidak kunjung mengganti pakaiannya.

Sayapun sempat tidur sekitar 15 menit, dingin yang dirasakan tidak kunjung hilang walau sudah berganti pakaian dan berada di dalam tenda. Setelah sekitar jam 4, karena semakin merasa dingin, kami memutuskan untuk segera turun, sebelum malam tiba dan pasti akan jauh lebih dingin. Kami bergegas membongkar tenda dan packing dan mengumpulkan sampah-sampah untuk dibawa turun lagi. Setelah semuanya selesai dan sedikit breafing, kamipun mulai turun. Saya turun dengan pinjaman sepatu nufus yang sudah basah, sementara dia pake sandal yang dia bawa.
Kami terus berjalan hingga malam tiba dengan mengandalkan headlamp yang saya bawa dan 1 lampu tenda, karena senter yang kami pakai kemasukan air dan mati. Saya sedikit tertinggal karena kaki saya mulai tergesek sepatu dan pada saat itu memang tidak menggunakan kaos kaki, tidak jarang saya dan teman-teman terpeleset di jalan, untung saya membawa tracking pole, lumayan membantu sekali di sini. Sekitar jam 7 malam alhamdulillah kami sudah sampai di basecamp dengan selamat. Disambut suami dari ibu pemilik basecamp (kayaknya).

Sayapun langsung membersihkan diri(tapi tidak mandi karena dingin sekali) dan istirahat sambil menikmati mie goreng yang dipesan ke ibu basecamp. Senang sekali rasanya bisa mendaki di gunung Merbabu ini, banyak pengalaman dan teman baru yang saya dapat. Pengalaman tentang bagaimana bisa bersabar dan terus berjalan walau halangan menerpa, tentang bagaimana menyingkirkan egoisme dan bekerja sama itu yang paling penting. Banyak sekali pelajaran hidup dan filosofi yang bisa kita ambil dari kegiatan pendakian ini. Terima kasih untuk anggota tim, Nufus dan Febri, serta pihak-pihak lain yang sudah banyak membantu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

7 thoughts on “Lost in Merbabu Mountain

  1. Aku ngebayangin malam2 , basah, pake sepatu yg jg basah, hrs turun begitu, kok serem ya mas :D. Eh tp aku penasaran, pernah ketemu ular ga sih kalo sdg naik gunung gitu? Mungkin alasanku sbnrnya ga terlalu mau ikutan naik gunung tiap diajak temen, ya krn kepikiran ular :p

    1. Eits itu pas turun dari camp udah ganti baju kok, kan bajunya ditinggal dalem tenda,dipacking dalem plastik, jadi masih kering, kalo sepatu sih emang basah mau gimana lagi. Kalo ular, gak pernah ketemu tuh yg namanya ular, kayanya ularnya udah pada tau itu jalur pendakian deh, padahal termasuk yg rumputnya paling rimbun itu Merbabu

  2. Aku juga pernah ngelost di Merbabu kang. ngefly juga pernah.
    aduhai cuaca puncaknya ga cerah ya mas, padahal kalo cerah bagus banget loh.
    bang anuf harus kesini lagi ya nanti semoga bisa dapet view yang aduhai 🙂

    MAri mas mampir ke rumahku, baru baru ini aku juga abis naik gunung Lawu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *