Self Driving: Menjadi Driver Atau Passenger ?

Posted on Posted in BOOK
Read and Drink | muzanuf.com    

Bertahan di toko buku selama satu jam dua jam, mengamati satu rak ke rak yang lain bukan tanpa alasan, memang suasana toko buku lebih nyaman dan adem rasanya. Oh ini yang membuatku tak tahan lama-lama membaca buku di tempat, apalagi sambil berdiri.

Mengunjungi toko buku memang menjadi pelarianku ketika gabut, ngga ada kegiatan. berasa butuh referensi untuk bahan bacaan, padahal banyak buku tertimbun dilemari kost, oh tidak sepertinya aku sudah menjadi Abibliophobia , apa itu Abibliophobia ?

seseorang yang mengalami abibliophobia ini suka banget menimbun buku, walaupun banyak buku yang belum kebaca. Abibliophobia bisa merasa sangat frustasi kalau sampai nggak punya bahan bacaan. Menurutnya, lebih baik membeli banyak buku sekaligus, karena dia takut kehabisan bahan bacaan tiba-tiba. Kayak persedian makanan aja ya, nggak boleh sampai kosong – Sumber wikipedia

a Reader lives a thousand lives before he dies – George R.R.Martin

tidak tidak aku tak seperti itu kawan, aku memang suka membaca buku akan tetapi tidak sampai memborong buku begitu. aku juga nggak sering frustasi 🙂

Beberapa waktu lalu saya sempat mengenal Rumah Perubahan, Rumah Perubahan singkatnya adalah Sebuah rumah dimana teman teman bisa memperbaiki karakter atau meningkatkan karakter. baik langsung saja

Rumah Perubahan ini ternyata digagas dan didirikan oleh  Rhenald Kasali yang terinspirasi dari buku pertamanya yang berjudul change, buku selanjutnya adalah  cracking zonedan yang terakhir saya baca adalah Self Driving.

Self Driving, menjadi driver atau passenger?. Kalau di artikan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya seperti ini. ‘Pengendalian diri, menjadi sosok pengemudi atau sosok penumpang?

“… dunia usaha menghendaki manusia-manusia berkarakter driver yang berkompetensi, namun juga cekatan, gesit, berinisiatif, dan kreatif. Namun, di berbagai kampus tanpa disadari yang terjadi justru pembentukan manusia-manusia passenger. Kaum muda cenderung pandai, namun output-nya adalah manusia-manusia penumpang yang sering saya temui di dalam angkot atau bus kota.” (hlm. xi)

“Reading a good book is like taking a journey” – Emma Gulliford

Demikian sekilas kutipan Rhenald Kasali kata pengantar buku Self  Driving. Melihat Realita bahwa banyaknya manusia atau kaum muda yang cenderung memiliki mental sebagi penumpang di banding driver, beliau berinisiatif mengajak khususnya generasi muda untuk lebih berfikir ataupun menjadi sosok figur yang tidak hanya pandai di atas kertas, namun juga gesit, dan cepat bertindak.

Sederhananya soal memimpin diri kita, akan tetapi memimpin melalui pemikiran-pemikiran, kita di ajak berfikir terbuka dengan cara yang asyik. Iya iya, ini memang 270 halaman, nggak semuanya suka baca buku, tapi kalau ketemu saya atau teman kalian punya buku ini saya tunjukin deh satu bab yang isinya keren banget dan wajib baca untuk seluruh yang mau kuliah dan yang lagi kuliah atau yang mau study lanjut.

Penjabaran Dr. Rhenald Kasali di dalam buku ini mengenai Good Driver sangat mudah dipahami, karena menggunakan bahasa manajemen yang paling sederhana. Semakin menarik karena setiap bahasannya memasukkan contoh-contoh kasus yang terjadi di dunia nyata dan kisah-kisah yang menginspirasi. Seolah kita sedang mendengarkan seorang dosen bercerita, bukan memberikan perkuliahan.

Penulis juga sudah membuktikan kedisiplinannya dalam menyelesaikan naskah buku ini, yang dilakukan di tengah kesibukannya. “Sebagian orang berpikir buku ini ditulis di atas meja tulis yang dilengkapi oleh alat-alat ketik modern berupa komputer dengan jadwal yang teratur. Keliru! Buku ini ditulis di sepanjang perjalanan dengan menggunakan kertas polos dan blocknotes yang saya bawa dari Jakarta dan sekitar 30 isi bolpoin uni-ball Signoyang seakan tak pernah berhenti dipakai sejak pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.” (halaman 113).

Pada bab Selanjutnuya, kalian akan di giring pemikirannya untuk memelih yang terbaik, yaitu menjadi good driver. Supaya menjadi good driver, setidaknya kita harus membiasakan diri dengan beberapa hal ini, antara lain

  • Ambillah Risiko
  • Play to Win
  • The Power of Simplicity
  • Creative Thinking
  • Critical Thinking
  • Growth Minset
Keenam hal tersebut dikupas secara detail ke dalam enam bab tersendiri. Setiap bab selalu ada kisah-kisah inspiratif yang menggiring kalian optimis untuk membenahi diri.
Buku ini dilengkapi pula dengan latihan-latihan sederhana yang mendukung keenam hal itu. Misalnya, agar seseorang memiliki Critical Thinking Standard (terbuka, jujur, berani, sabar, memiliki rasa cinta terhadap sesama, tidak mudah tersinggung, sadar ada kelemahan dalam diri, terbuka terhadap kritik, dan independen) maka sering-seringlah ‘bergumam atau ngoceh’ saat melihat iklan TV ataupun nonton film, membaca sebuah perdebatan, dan mengkritisi buku.
Secara keseluruhan, apa yang dipaparkan Rhenald Kasali benar-benar membuka wawasan kita untuk menanamkan karakter seorang driver pada diri kita. Tanpa kita sadari, sering kita terjebak pada mental seorang passenger yang membuat diri kita lemah. Jika kalian anak muda, sedang mencari jati diri, dan merasa menjalani hidup yang biasa tanpa prestasi gemilang. Maka, kalian harus segera membaca buku ini, Self Driving. Banyak kisah-kisah inspiratif yang di buku ini bisa dijadikan penyemangat untuk menjadi seorang driver.
Sekilas meja kerjaku – Nufus
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

2 thoughts on “Self Driving: Menjadi Driver Atau Passenger ?

  1. Ntr cari bukunya ah… Aku akuin, aku tuh kyk punya 2 tipe dlm diri.. Di rumah, bisa dibilang aku cendrung jd passenger, sedikit tergantung ama suami, apalagi dlm hal antar mengantarkan..

    Tp saat di kantor, aku biasa memimpin team service operationku supaya bisa mencapai target.. Jd lbh ke driver :D. Mungkin stlh baca buku ini, aku bisa ngerubah mindset supaya bisa lebih mandiri saat di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *