Nasionalisme dan Islam NUsantara

Posted on Posted in BOOK

Agama dan Nasionalisme bukanlah dua kutub yang bersebrangan, Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan. – KH Hasyim Asy’ari.

Sebagai salah seorang yang pernah DO (drop out) dari Pondok yang belum mendapat bayak ilmu dari pondok lantaran mondok hanya sebagai pelarian saja, Mondok berantakan, Sekolah juga berantakan. Saat disekolah berangkat telat, dikelas ngantuk, alasannya Saya mondok pak, saat ngaji kitab jarang jarang sama pak Kyai, alasannya saya sekolah Kyai. Sungguh itu adalah kesalahan saya yang kusesali, kenapa dari dulu ngga serius mondok, padahal pondok putri disebelah santriwatinya cuantik cuantik.. *Ehhemm

Saat Muktamar yang ke 33 diselenggarakan di Jombangtentunya bukan tanpa alasan para Stakeholders sudah mempertimbangkan secara matang terkait kesiapan Jombang sebagi tuan ruman dalam gelaran Muktamar tidaklah bebas nilai, semua berakrar kepada figur figur yang membidani lahirnya NU, sebut saja Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan lainnya. Kegigihan para masyayikh dalam berdakwah lah yang harus diteladani, baik secara formal maupun kultural, begitu pula meneladani perjuangan dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai asas negara. Oleh karenanya, melalui tulisan ini saya hendak mengajak pembaca untuk kembali menelaah dan meneladani apa apa yang telah di gariskan oleh para guru besar kita rahimahumullah, tentang apa itu Nasionalisme dan dakwah Islam secara kulturan.

Baru kali ini mulai membahas buku lagi setelah sekian lama. Oh ya, saya sangat berterimakasih kepada teman saya, Febryanto yang telah memberikan referensi buku ini, makasih bang febri 🙂

==========================================

Riuh-rendah serta semarak perdebatan yang cenderung diskursif bahkan polemis hilir mudik menghiasi dunia wacana keislaman. Banyak pihak yang pro dan segera menerima gagasan tersebut, namun tidak sedikit yang memandangnya sebelah mata, tidak menyepakatinya, dan bahkan sampai ada pula yang mencurigainya sebagai bagian gerakan agenda liberalisasi Islam di Indonesia.

Di tengah derasnya arus perdebatan itu, hadir sebuah buku yang bisa menjadi semcam pegangan referensi sebagai bagian upaya mengkaji sekaligus memahami duduk historis, terminologis, dan sosiologis tentang apa sejatinya gerangan makhluk Islam Nusantara itu.

Buku Nasionalisme dan Islam Nusantara yang sejatinya merupakan kumpulan tulisan wacana dari kalangan nahdliyyin tersebut pada dasarnya ingin menyuarakan bahwa wacana Islam Nusantara sesungguhnya bukan barang baru sama sekali. Ia adalah wacana yang sudah ada sejak lama, sejak Gus Dur mempopulerkan pribumisasi Islam, atau bahkan sejak era walisongo menggalakkan dakwah kulturalnya.

NU sebagai salah satu ormas yang konsen menyarakan dakwah Islam yang ramah nampaknya sudah mengambil langkah yang sangat jitu dengan mengangkat tema Islam Nusantara dalam muktamarnya. Dengan narasi Islam Nusantara yang diketengahkan itu, NU mengukuhkan diri sebagai ormas yang masih berpegang teguh pada corak keberislaman yang ramah, damai, sekaligus, toleran.

Konsep hubbul wathan minal iman yang kerap kali dikumandangkan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah belakangan dikukuhkan oleh Said Aqil Siroj dengan sebuah percik pemikiran yang terkenal bahwa ukhuwwah watahniyyah (persaudaraan bangsa) harus didahulukan di atas ukhuwwah basyariah (persaudaraan manusia) dan ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam). Hlm.5

Coffee and Book blogger

Berkaca kepada Mbah Hasyim dan Mbah Wahab

tidak ada sejarawan yang bisa menyangkal bahwa KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) merupakan seorang ulama besar yang berjiwa Nasionalismenya sudah menjadi prinsip hidup. Adapun peristiwa yang paling tidak bisa dilupakan dari benak kita adalah momentum pasca kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 22 Oktober 1945, yang sekarang dikenal dengan Hari Santri Nasional, hayoloh baru tau pasti nih kalian. Netherland Indian Civil Administration (NICA) dari pemerintah Belanda yang membonceng pihak sekutu, mencoba untuk datang kembali ke Indonesia guna merebut kekuasaan di Surabaya. Menghadapi keadaan ini, mbah Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan tentara NICA dan sekutu, hingga pecahlah peristiwa 10 November. Bagi mbah Hasyim, kemerdekaan dan keutuhan NKRI adalah bentuk final yang tidak bisa ditawar lagi.

Sumber: http://www.IslamToleran.com

Sebelum keluarnya Resolusi Jihad, KH Abdul Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) dengan segala kelincahan dan kecerdikannya, tidak pernah berhenti untuk melakukan konsolidasi ke sejumlah wilayah di Jawa dan Madura. Konsolidasi ini tak lain guna menggalang massa dari basis-basis NU yang umumnya merupakan kalangan santri dan masyarakat di pedesaan. Karena bagaimanapun, bagi Mbah Hasyim dan Mbah Wahab melawan penjajah adalah Fardlu’ain hukumnya. Negara Wajib dipertahankan kedaulatannya, karena dengan berdirinya sebuah negera yang merdeka, aman dan terkendali, niscaya umat Islam beserta pemeluk agama lain bisa melaksanakan ibadah dengan sebaik baiknya.

Sampai pada titik ini kemudian berlaku : ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib (jika suatu kewajiban tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib juga hukumnya). Beribadah dan melaksanakan rukun Islam secara sempurna tentunya tidak akan bisa ‘Sempurna’ tanpa adanya kedaulatan negara tempat kita tinggal. Sehingga, apa yang telah diperjuangkan oleh para patriot bangsa ini (sebagaimana yang dicontohkan Mbah Hasyim dan Mbah Wahab) adalah sebuah keniscayaan bagi kita untuk memperjuangkannya. Mereka semua tidak rela kebebasan dan kemerdekaannya diinjak injak penjajah. Bagi mereka, hanya ada satu prinsip : merdeka atau mata; ‘isy kariman, au mut syahidan; rawe rawe rantas, malang malang putung.

Islam Kultural ala NU

Almaghfurlah Gus Dur pernah melontarkan satu pertanyaan menggelitik, “Kita ini sebetulnya orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam?” Pertanyaan ini sepintas tidak problematik, tetapi jika dibaca pelan-pelan dengan kecermatan yang tajam, maka terdapat dua paradigma yang bertolak belakang dalam mengimplementasikan Islam di bumi Nusantara. Terkait pertanyaan Gus Dur ini KH Marzuki Wahid menulis:

“Pertanyaan ini dilontarkan Gus Dur ketika sebagian orang Islam di Indonesia marak menggunakan identitas ke-Arab-an untuk meneguhkan identitas dirinya sebagai orang Islam. Dengan identitas itu, dalam benak mereka, seolah-olah Islam itu Arab dan Arab itu Islam. Untuk menjadi Muslim, seseorang harus menggunakan identitas Arab atau melebur seperti orang Arab, mulai dari cara berbicara yang ke-arab-arab-an, berjenggot dan berjambang lebat, berpakaian jubah, abaya hitam-hitam bercadar, atau seperti pakaian orang Afghanistan, hingga cara makan dan apa yang dimakan oleh orang Arab pun dijadikan model keislaman.”

Gus Dur sendiri pernah mengatakan: “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita menjadi budaya Arab, bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita. Kita serap ajaran nya, tapi bukan budaya Arabnya.” Gagasan Gus Dur ini tentunya merupakan pengejawantahan corak Islam Nusantara yang sangat harmonis dengan budaya dan kearifan lokal. Pada sebuah kesempatan, Habib Luthfi mengatakan:

“Untuk mengamalkan syariat Islam tidak perlu menghilangkan kultur lokal. Dakwah Walisongo berhasil, karena beliau-beliau sudah mempelajari kultur penganut agama Hindu dan Buddha di Nusantara. Poinnya adalah penyesuaian dalam penerapan, bukan merubah pokok syariat. Ibaratnya, orang Jawa ya dikasih makannya nasi dengan lauk sayur asem. Kalau orang Jawa dipaksa makan nasi buryani dan kebuli terus ya mencret. Islam di Indonesia disyiarkan oleh Walisongo dan para ulama dengan pendekatan budaya, di Andalusia Islam disebarkan dengan kekuatan militer, mana yang lebih bertahan?”

Sumber: http://www.jurnalislam.com

Lihatlah betapa pendakwah terdahulu begitu toleran menghormati perbedaan, Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi Hindu yang ada di daerahnya. Sehingga, setiap Idul Adha yang disembelih hanyalah kambing dan kerbau. Dengan begitu, warga Hindu tidak merasa terhina dan tetap dihargai kepercayaannya. Pendekatan Sunan Kudus terbukti efektif, sehingga banyak penganut Hindu yang datang ke masjid untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Bahkan banyak di antara mereka yang akhirnya berpindah dan memeluk Islam. Demikian pula dengan Sunan Kalijaga, beliau sangat cemerlang dalam mengolah budaya menjadi seni berdakwah, baik melalui seni ukir, wayang, gamelan, maupun seni suara suluk. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Beliaulah yang menggagas perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta lakon carangan “Layang Kalimasada” dan “Petruk dadi Ratu”. Para wali tidak berdakwah secara frontal, melainkan berbaur dengan kearifan lokal, hal inilah yang ditiru oleh para kyai dan masyayikh kita. Lihatlah bagaimana penamaan pesantren-pesantren yang sudah berdiri selama ratusan tahun dinamai dengan citarasa lokalitas di mana ia berdiri, sebut saja Pesantren Tebuireng, Pesantren Tambakberas, Peterongan, Denanyar, Lirboyo, Ploso, Krapyak, Kajen, Buntet, dan masih banyak lagi. Hal ini mengindikasikan ikatan horizontal antara kyai-santri-masyarakat terjalin erat, karena semua makan dan minum dari tanah dan air yang sama.

Sumber: news.okezone.com

Maka dari itu, kita sepatutnya miris melihat kecenderungan kelompok-kelompok keagamaan yang cenderung ‘hobi’ untuk melabeli dan menstigmakan sesama muslim dengan cap ahli bid’ah, kafir, syirik dan lain sebagainya. Kecenderungan inilah yang kemudian menjadi kegelisahan Emha Ainun Nadjib. Cak Nun mengatakan: “Wong Kanjeng Nabi biyen nyedeki wong kafir ben melebu Islam kok, lha saiki malah wong Islame dewe dikafir-kafirke.” Singkatnya, dulu Nabi Muhammad SAW dengan kelembutannya mendekati orang-orang di sekeliling beliau untuk ikut masuk ke jalan keselamatan, tapi sekarang manusia-manusia angkuh nan egois (yang merasa paling benar sendiri) menuduh kafir dan syirik kepada sesamanya. Ironis.

Martin van Bruinessen pernah mengutarakan bahwa NU merupakan sebuah gejala unik, tidak hanya di Indonesia melainkan juga di dunia Islam. Sebuah organisasi yang dikontrol oleh para ulama dan memiliki massa pengikut riil. Akarnya menancap kuat di kalangan penduduk dengan kesetiaan pengikutnya yang sangat kuat, hampir-hampir primordial. Kesetiaan inilah yang seharusnya dikembangkan sebagai potensi ke arah yang lebih baik lagi.

Maka dari itu, sebagai pamungkas dari tulisan ini, ada beberapa hal yang hendak saya beri catatan:

Pertama, kita tahu bahwasanya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai pelopor berdirinya NU tentu saja senantiasa menjadi panutan bagi kita semua warga Nahdliyyin. Di lain pihak, mobilitas NU secara nasional juga tak bisa dilepaskan dari sosok KH Abdul Wahab Hasbullah, yakni motor penggerak organisasi yang enerjik dan brilian. Diplomasi-diplomasi dan lobi-lobi yang dihasilkan Mbah Wahab menjadi bukti kecemerlangan beliau. Maka sudah seharusnya, Muktamar ke 33 ini dijadikan momentum bagi kita untuk kembali meneladani dan mendalami falsafah perjuangan Mbah Hasyim dan Mbah Wahab (tanpa mengesampingkan kyai dan ulama yang lain) dalam konteks keagamaan dan kenegarawanan. Sebab kita tahu, basis NU terkenal sebagai basis yang mengakar kuat hingga ke akar rumput. Santri, sebagai kader alamiah organisasi ini merupakan potensi besar yang tak boleh diabaikan begitu saja. Santri, tidak cukup hanya pandai mengaji dan ceramah agama saja. Santri, juga harus pandai berserikat, berorganisasi dan membaur dalam komunitas-komunitas. Karena dengan begitu, secara alamiah akan menumbuhkan jiwa leadership sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Mbah Wahab. Jiwa leadership ini menjadi penting ketika nanti si santri kembali dan pulang untuk berjuang di masyarakatnya. Oleh karena itu, santri juga harus melek isu-isu lokal, nasional, bahkan global.

Kedua, Muktamar NU harus mampu memetakan skala prioritas dalam pembahasan isu-isu bersama, baik lokal maupun nasional. Hal ini menjadi penting, melihat kondisi bangsa kita sendiri yang sedang mengalami krisis kepercayan untuk mengatasi problematikanya sendiri. Rongrongan ajaran Wahabi-Salafi yang gemar mengkampanyekan tuduhan bid’ah dan mengakfirkan pemeluk muslim yang lain tentunya semakin nyata menggerogoti keyakinan masyarakat kita. Oleh karenanya, Muktamar ke 33 kali ini seyogyanya menjadi ajang untuk menengok kembali landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis dari visi dan misi NU sendiri melalui kacamata konteks bangsa saat ini. Tak lain dan bukan agar penempatan Jombang sebagai lokasi Muktamar bukan hanya sebagai perihal teknis belaka, tapi juga memiliki nilai-nilai filosofis yang luhur. Nilai-nilai yang bermanfaat bagi umat manusia tanpa memandang suku dan agamanya. Karena sebagaimana yang dikatakan Gus Dur, bahwa: “Peran agama sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta bahwa dirinya adalah bagian dari umat manusia dan alam semesta.”

Ala kulli hal, buku ini merupakan salah satu referensi penting untuk membentu memahami bagaimana nasionalisme serta sikap kebangsaan NU dan apa sesungguhnya Islam Nusantara. Buku ini terlalu sangat berarti untuk dilewatkan para pengkaji sekaligus pemerhati NU dan juga wacana Islam Nusantara. Wallahu a’lam bisshowab

Bahan Bacaan :

Emha Ainun Nadjib, Indonesia Bagian dari Desa Saya, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2013).

M Hasyim Asy’ari, Sang Kiai: Fatwa KH M Hasyim Asy’ari Seputar Islam dan Masyarakat, terj. Jamal Ma’mur Asmani, (Yogyakarta: Qirtas, 2005).

Marzuki Wahid “Menjadi Muslim-Indonesia: Inspirasi dari Pemikiran Gus Dur,” Harian Kabar Cirebon (Jum’at, 30 Desember 2011).

Martin van Bruinessen, Rakyat Kecil, Islam dan Politik, (Yogyakarta: Penerbit Gading, 2013).

Muhammad Sholikhin, Ritual dan Tradisi Islam Jawa, (Yogyakarta: Narasi, 2010).

Munawwir Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang NU, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2006).

Abaikan yang ini, Rencananya 1 bulan satu buku tapi ah, syudahlah 🙂
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

23 thoughts on “Nasionalisme dan Islam NUsantara

  1. Waduh…postingan yang berat mas kajiannya. Kebanyakan mbaca postingan curhat dan kulineran saya sepertinya..jadi mbaca tulisan njenengan serasa kuliah lagi…😊😊

    Btw..klo yang sinkretisme hindu-Jawa-Islam gitu gmn mas di mata NU nusantara? Bagian dari tradisi yang nggak perlu dihilangkankah? Lalu..bagaimana dengan gerakan pemurnian ajaran agama?

    1. Alhamdulillah terimakasih 🙂

      selaga tradisi itu ada makna dan maksud yang baik serta ada pesan moralnya sepertinya tidak harus dihilangkan, malah bisa menjadi tradisi lokal yang bagus.

      mengenai pemurnia agama ..? apakah itu bererti memutus estafet pemikiran ulama ulama terdahulu yang langsung “kembali ke al quran dan hadist” . wah sepertinya saya belum pantas membahas ini bu sulis, saya masih tahap belajar 🙂

      terimakasih sudah mampir 🙂
      Salam Nufus M. Zaki

  2. Kontennya penuh akan makna om, biar tambah mantap gimana kalo misalnya per paragrafnya dibuat berapa baris aja gitu, biar gak capek bacanya aja sii.. hehe, thanks.

  3. Ini salah satu buku yang bagus dan sarat makna. Harus dikoleksi.
    Saya hidup di lingkungan NU dan akrab dengan mereka. Terlahir sebagai NU juga, tetapi tidak mengambil kartu tanda NU. Membaca buku ini mungkin bisa mengubah cara pandang saya yg telanjur sok moderat.

  4. Ini salah satu buku yang bagus dan sarat makna. Harus dikoleksi.
    Saya hidup di lingkungan NU dan akrab dengan mereka. Terlahir sebagai NU juga, tetapi tidak mengambil kartu tanda NU. Membaca buku ini mungkin bisa mengubah cara pandang saya yg telanjur sok moderat.

  5. Bacaan yang lumayan yaah.
    Kalau orangtua saya selalu mendefinisikan islam kami adalah islamnya Rasulullah, meskipun kalau kata tetangga sih kami masuknya golongan Muhammadiyah hehe, tapi apapun golongannya saya pikir ambil baiknya (sesuai alquran & hadist), tinggalkan yang buruk dan bertentangan dari pedoman diatas.
    Orang-orang sekarang lebih banyak “membaca” di medsos daripada buku beneran jadi semacam kurang santai menyikapi suatu hal.

  6. Harus pelan2 bacanya biar ga gagal paham. Sy suka kutipan ini “Kita ini sebetulnya orang Islam yang (kebetulan) hidup di Indonesia ataukah orang Indonesia yang (kebetulan) beragama Islam?” Makasih tambahan ilmunya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *